Di Kedai yang Sepi

Apakah penting aku yang sendiri di pojok kedai? Rasanya tidak.

Lihat bangku-bangku, meja dan kursi di ruang yang lebih sering kosong ini. Bila tak ada sesiapa, mereka termangu, diam-diam dan harap-harap, berkelimun dalam temaram. Menunggu setidaknya satu gerak daging dan darah untuk menghias ruang dengan riang.

Maka kemudian tak mengapa, entah tikus, ah, atau cerpelai yang berlarian di sela kaki kursi. Mencericit riuh dan gaduh. Asalkan pergi sendu yang gagu.

Dalam kedai kududuk menepi, tak perlu lagi meratapi sepi.
Ada diam yang lebih ingin disapa
yaitu pada bangku-bangku, meja dan kursi

Aku tidak sendiri

.

9 Mei
di kedai, setelah sup krim jamur, loenpia, dan teh rasa buah berri

Advertisements

2 thoughts on “Di Kedai yang Sepi

    1. terima kasih telah mampir Pak Hasan. mengenai sup krim jamur itu… urusan saya memang belum selesai 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s