cerita pendek

Berbalasan pesan dengan Chan selalu menyenangkan dan menenangkan. Terutama sebelum tidur. Selamat malam – selamat malam, tidur yang nyenyak ya – sleep tight, jangan lepaskan mimpi indah – kamu juga.

Tapi hari ini sungguh gerah. Lana jogging di tangga darurat sore tadi. Dan sekarang sudah pukul sepuluh tiga puluh delapan malam, peluh masih mengucur. Menenangkan diri saja tidak cukup meredakannya. Akhirnya ia membatalkan niat mabal mandi, bangkit, meraup botol sampo, sabun cair, busa mandi, dan handuk.

Bersijingkatlah ia di lorong antar kamar yang sunyi. Beberapa lampu telah dimatikan Herman Penjaga. Tidak terlalu berguna, mungkin pikirnya, karena penghuni kamar-kamar belum datang semua dari mudiknya. Berusaha melangkah tak bersuara, Lana menuju kamar mandi paling tengah yang keran airnya lancar. Tidak peduli pamali. Mengabaikan jin-jin yang mukim di dasar bak mandi. Lana perlu lima menit saja. Mengguyur rambut cepak caramel-latte dan menyabuni seluk likunya.

Sambil membusakan sabun, Lana teringat buku yang baru dibacanya. Tentang Selma dan rahasia-rahasianya. Lana berhenti di tengah bacaan, sampa pada enigma. Kata-kata sederhana, tak ada ungkapan yang canggih, tapi semuanya bisa memukau. Lana ingin bertanya pada mentornya apa buku itu termasuk patut dipuji. Lana ingin menulis seperti itu. Sekumpulan frasa-frasa pendek. Bebas, tak berhubungan, tapi bisa menjadi badan cerita. Seperti mengumpulkan fragmen visual dari sejengkal waktu yang sama. Ada pohon di tebing. Ada tragedi yang disampaikan sambil lalu. Tidak mencekam tapi langsung menusuk ketidakpedulian.

Lana lalu teringat juga tugas mengarangnya yang belum selesai. Seminggu lagi linimati. Tadinya Lana mengurungkan niat, dan baru akan menyempurnakannya tahun depan. Tapi, ia ingin melahirkan. Mungkin tidak terlalu baik tapi ia harus menghasilkan.

Mandi Lana hampir usai. Habis ini ia akan shalat malam, lalu ia akan membaluri tubuhnya dengan minyak kayu putih, memeriksa pesan terakhir dari Chan untuk malam ini, baru kemudian membuka kembali naskah yang terbengkalai… memperbaiki sebisanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s