Kepada Anak yang Belum Kulahirkan

Aku mau minta maaf padamu

setiap kali kau singgah
setiap kali itu juga aku harus melepasmu pergi

Aku merasa seperti Setyawati
yang membuang anak-anaknya ke Yamuna
Tidak, kau tidak bersalah
Kau suci adanya seperti para wasu yang kembali ke kahyangan
… dan yang kulakukan adalah sebuah perjuangan

Semoga kau sampai ke bibir samudra
atau meresap ke dalam tanah rimba yang sejuk
Bukan di bawah sana
berkecimpung dengan sampah dan tikus got
Jangan menangis , Nak
Ini cuma sebagian perjalanan

Lunar,
tidak tahu kapan aku bisa
memberimu wujud serupa Dewabharata
Ksatria yang disegani sekaligus getir
Dipuja meski membawa karma supata seorang dewi

Maafkan aku, Nak
Setiap kali kau mengetuk-ngetuk kesadaranku
dengan rasa nyeri dan gelombang emosi
Setiap kali itu juga aku bertanya-tanya
kapan akan kujumpai sang titik embun
yang entah akan menetes di gelap malam atau hangatnya pagi
… bahkan aku belum bisa menjawab pencarianku sendiri

Kita cuma bisa mengenang kisah-kisah pertemuan sambil menunggu cuaca jenuh
Kita cuma bisa saling menceritakan kembali
tentang embun bening yang di dalamnya melarut kasih sayang dan ketulusan
tentang pokok kokoh yang juga memimpikan benih dari dirinya
Kita mereka-reka turangga seperti apa yang akan membawanya
dari arah mana ia datang
….. dan aku paling suka ketika kau berbisik usil meyakinkanku
bahwa ia akan datang bersama embusan angin gunung.

Lunar,
Ia memerlukan aku tetapi dia belum menemukanku
Ia juga merindukanmu tapi dia tak tahu engkau ada bersamaku
Aku juga tidak bisa bilang kalau kau ada di sini
Ada semacam perjanjianku dengan alam, untuk menjaga rahasianya

Kita memang hanya bisa menceritakannya kembali
berulang kali
setiap hari…
sembari menanti

Aku mau minta maaf padamu

Sekali lagi, hari ini, aku melepasmu
dengan perasaan pilu dan lidah kelu
Hancur berantakan, cair dalam sejuta pertanyaan
Namun kau suci adanya
Seperti aku juga setia menyimpan ruang kosong untuk sang embun

Lunar, anakku
Kuharap kau belum lagi bosan menyinggahiku
Memeriksa apakah aku baik-baik saja;
mengingatkan akan dirimu yang menantiku membukakan pintu ke dunia fana;
memastikan aku cukup kuat untuk dapat menimangmu kelak dalam realita yang sering kali kelam

(tapi itu lebih baik daripada perjalanan sunyi ke bibir samudra, bukan?)

-Calon Ibumu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s