Category Archives: benak

18.50

kamu pasti bertanya-tanya, seperti apa hidupku di jam-jam seperti ini;
menggelandang di kota yang keji;
tanpa seseorang yang menyibukkanku;
sampai-sampai aku sempat membaca buku;
menulis prosa;
menyanyi miris;
dan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu yang ngga penting…

Apa? Kau membaca sepi?

Advertisements

Perempuan dengan Belati

Dulu, waktu ia masih gadis kecil yang baru mekar
Pada suatu siang sepulang sekolah
Di hari yang terang tanpa prasangka
sebilah tapak tangan telah menjamahnya;
Seseorang yang menjulurkan tubuh dari jendela kendaraan;
Wajah yang tak sempat terlihat

Ia terkejut dan berdebar.
Terpaku di pinggir jalan, tanpa arah, tapi juga tanpa tangisan.
Sesegera mungkin ia pulang dan menemui ibunya.
Ibu yang baru pertama kali punya anak gadis dilecehkan.
Masih tanpa tangisan. Dan ibu yang tetap bersuara tenang.
Ia lupakan kejadian itu dalam tidur malamnya.
Tetapi keesokan pagi, Ibunya menyelipkan sebilah pisau lipat.
Kecil, dengan tali benang berwarna ungu.
“Hati-hati. Tegarlah, Nak”, demikian pesan Ibunya.
Sejak itu ia tahu, kapanpun bahaya muncul, ia boleh membela diri sehabis-habisnya.
Ia kembali melewati jalan itu. Tetapi yang dinantikan tak pernah muncul lagi. Meskipun demikian, kini, kemana pun ia pergi, pisau lipat kecil bertali benang ungu selalu bersamanya.

Di masa yang lain,
Ketika ia sudah jauh dewasa dan boleh memutuskan tindakan sendiri;
Ia pergi ke hutan-hutan dan gunung.
Ayah dan ibunya tidak bisa lagi melarang.
Semalam sebelum ia berangkat, Sang Ayah membekalinya sebuah belati. Besar dan berkilat; Terbuat dari baja terbaik dan diasah dengan sangat seksama.
“Bisa untuk menebas ruyug sesemakan dan kaugunakan untuk di dapur”, pesan Ayahnya.

Dengan siapa ia pergi hari itu sebenarnya ia tak permasalahkan. Mereka adalah teman-teman yang bisa dipercaya.
Tetapi pada suatu malam di perkemahan, ia keluarkan juga belatinya. Teman-temannya tercekat; seolah tersadar bahwa mereka tak bisa main-main dengannya. Ia tidak pernah bermaksud mengancam. Belati itu disimpannya di dalam tas yang menjadi alas kepalanya; Tak ia gunakan untuk menebas semak maupun untuk memasak. Rekan-rekan prianya telah melakukan itu semua untuknya tanpa ia perlu bersusah-payah.

Sejak itu, lama sesudahnya… tak banyak gangguan yang ia alami dalam kehidupannya sehari-hari. Pisau lipat dan belati rasanya semakin berat ia sandang dalam kantung atau tasnya. Tanpa sepengetahuan siapa pun, ia simpan benda-benda tajam itu di lemarinya. Rapi dan tersembunyi. Ia kemudian jatuh cinta dan belajar berkata-kata; Memahami kedalaman dan keampuhannya. Kini ia mengetahui bahwa lidah yang tajam bisa tersimpan dan tersembunyi seperti pisau lipat, dan kata-kata bisa melukai serta merusak separah belati baja. Maka ia kemudian memutuskan mengasah lidah, otak, dan pekertinya setekun mengasah belati. Perlu waktu yang lama, sama seperti sebilah baja, untuk mencapai ketajaman dan keampuhan tertentu.

Ia kini bepergian dengan belati di lidahnya. Juga sepasang mata yang menyimpan api. Kesemuanya sama merusak seperti pisau lipat pemberian Ibu, maupun belati titipan Ayahnya. Hati dan pekerti adalah pengendali yang juga perlu dilatih, agar lidah belatinya tidak sembarang melukai orang.
Sebenarnya lidah belati masih memiliki resiko selain keberhasilan mengoyak mental di kedalaman. Yaitu lawannya bisa jadi akan sekadar terluka dan memilih tindakan untuk membalas lebih parah. Untuk kemungkinan kedua ini, ia bersiap untuk berkelahi dengan keringat dan darah. Tangan kosong.

Belati adalah pilihan ketika ia harus menghadapi babi.

part 08 – what we do

“… seperti katamu, ini perjalanan menyusur tepi jurang. berbahaya. tapi pemandangannya indah… kita akan sering terkesima dibuatnya”, katamu. Itu membuatku tersenyum. Manik mata berkilat menyimpan rencana.

” do you know, aku suka kita bicara-bicara seperti ini… tentang banyak hal yang ngga bisa aku obrolkan dengan orang lain”, kataku sambil melemaskan tungkai, melonjor ke bawah meja.

“really? kamu ngga ngobrol begini dengan kekasih kamu di rumah?”, kau malah terkejut

“oh no. bukan begitu. Ya, tentu saja aku juga bicara-bicara begini dengan Sammy. Tapi dengan kamu berbeda…”

“eh…”, buru-buru tanganmu mengacung, membatalkan raupan kepada secangkir kopi yang telah habis seperempat. Perbincangan masih akan panjang.

“o ya yaaa,… aku ga boleh bilang begitu, seperti katamu kan?”, ralatku segera. “Kita semua sama, ngga ada yang lebih istimewa dari yang lain. Kita ini saling mengisi, melengkapi. Yang kurang kaututup, yang lebih kubagikan. Demikian sebaliknya, kau terhadapku.”

“yes, that’s my girl… Kita memilih, memilah langkah dan arah. Jalanilah. Enjoy the trip”, senyummu merebak dan cangkirmu sampai ke bibir.

Kita sama-sama tidak tahu, akan berakhir ke mana perjalanan ini. Kita sama-sama memilih menjalaninya perlahan, tidak buru-buru.

how can I face you…?

how can I face you this morning … or all the coming days?

probably i’ll be afraid
… of not seeing you in the same way
… of losing you

perhaps i’ll be shy
thus my cheeks go pinkish
and my words lost their tracks

tell me how can I ?
for we are not in the same point anymore…
; we are moving somewhere we’d never know
and I really wish you’d still hold my hand firmly

tell me
how can I face you when this heart beats so hard

Raflesia

Di antara hukum buah-buah yang jatuh di sekitar pokok utama… selalu ada saja yang melepaskan diri. Menjauh. Bertumbuh dengan sejadinya. Dilupakan oleh induk tetapi sebenarnya masih tetap mengurat darah di sana. Begitulah kehidupan rumpun kami. Hampir terlupakan. Jauh. Bahkan tak dipandang. Bahkan pokok induk itu membenci kami seolah kami bukan apa-apa dari mereka. Bagaikan tak ada mereka di darah kami.

Dan sepanjang masa kehidupannya dipenuhi kebusukan. Tak ada bangkai tetapi baunya menyeruak. Merusak. Kami hanya sekadar bertahan untuk makan. Meskipun kami hidup, bagi mereka kami tetap disebut bangkai.

…..

(bagian 73)

“Apa andilmu dalam hidup kami? Apa yang papa mamamu lakukan atas kehadiran kami? Asal kamu tahu, Darmo tidak pernah diurus dan disayang ayah ibunya, nenek dan kakekmu itu. Apakah papamu pernah bisa cerita apa saja yang dialami Uwak Darmo ketika papamu cuma bisa ngompol dan nangis? Uwakmu itu dijadikan bujang di rumah besar. Kata ayah ibunya, supaya Uwakmu lekas mandiri dan dewasa. Mereka keras tetapi sayang. Apa kamu tahu, semua anak tetap memerlukan belaian kasih sayang ibu? Itu bukan retorika… tetapi Uwakmu tak sempat lagi mendapatkannya karena kelahiran papamu, Oom-oom… dan tante-tantemu…

Jadi… tahu apa kamu tetang kehidupan kami?”

Sas kemudian memilih berhenti … membiarkan kata-katanya diserap oleh anak gadis di depannya.

 

ada yang menghilang

dari udara, dari barisan nama.

 

mungkinkah juga ingin menghilang dari kenangan?

 

ini bukan rindu ingin bersua

hanya sekadar ingin mendengar kabar

yang menjawab pembenaran luka, yang lama disimpan kenangan

Barangkali.
Mereka telah muntab menyimpan seluruh pertanyaan sejarah ini.

Barangkali mereka sudah terlalu rindu, tak sabar untuk melihat bukti kebesaran Yahwe.
Mereka tidak percaya. Tidak beriman bahwa kerajaan-Nya nyata.
Cara termudah adalah dengan melakukan agresi, seperti gedoran terburu-buru di pintu gerbang Yang Maha.

Mereka tidak percaya pada tulah yang disampaikan turun-temurun sejak nenek moyang bahwa Al Aqsa pantang dinista.
Maka mereka meletuskan tubuh anak-anak intifadha. Mereka membantai begitu banyak tubuh-tubuh tak bersenjata.

Apalagi yang bisa dilakukan untuk memanggil cepat Allahu Akbar untuk datang melaknat mereka dengan azab yang pedih?
Mereka akan, … dan mau melakukan apapun itu, demi melihat mata murka Allah.
Naudzubillah!

# 01

KESALAHAN

Mama tak bisa sembuh dari trauma. Ia kelihatannya lebih suka memelihara kubangan luka itu. Menengoknya sesekali dalam benak yang tak sibuk lalu mengais-ngais kedalamannya. Ia mengeluarkan darah. Segar. Lagi. Setiap kali ia kembali.

Entah dia tak tahu atau mungkin tak punya apa-apa lagi selain kenangan. Ia tak pernah memaafkan masa lalu. Dan lebih daripada itu ia tak tahu bahwa semuanya terjadi karena ia sendiri ikut mengambil peran dalam kenangan.

“Aku tak punya keberanian”, begitu selalu kilahnya. Dan ia berharap besar ada ksatria berkuda putih yang membela dan melindungi kelemahannya. Ia tak tahu, dunia dongeng selamanya tinggal dalam buku dan bingkai lukisan. Tak ada dalam kenyataan. Bahwa dunia ini memerlukan dayanya untuk bergerak, entah ke kiri atau ke kanan.

Mama telah lupa, tak ada yang bisa ia perbaiki lagi atas segala hal yang sudah jauh berlalu.

“Luka dan bisa kubawa berlari”, katanya menegarkan diri tetapi tak ikhlas.

Tapi tak jua hilang pedih perih; selain hanya melukai lebih banyak hati.

apakah aku
sudah tak tahu lagi artinya pedih
dan ketika semua kemeriahan membuatnya bisu

atau terlalu cepat berlalu
hingga tak sempat lagi
menyimak kesan dari setiap tetes yang renik