Category Archives: gitasmara

how can I face you…?

how can I face you this morning … or all the coming days?

probably i’ll be afraid
… of not seeing you in the same way
… of losing you

perhaps i’ll be shy
thus my cheeks go pinkish
and my words lost their tracks

tell me how can I ?
for we are not in the same point anymore…
; we are moving somewhere we’d never know
and I really wish you’d still hold my hand firmly

tell me
how can I face you when this heart beats so hard

Advertisements

dua cangkir

caramel macchiato dan Asian dolce latte. ice. siang itu.

dalam terik matahari yang membakar. meninggalkan hangus dari tawa yang berderai dan debam jantung yang menghentikan tarikan nafas.

seharusnya membakar habis juga segala pertanyaan tentang eksistensi. tentang apakah pernah ada…

jarak-jarak yang ditempuh tanpa hirau. bukan hanya ke warung sebelah rumah. ini tentang perhentian dari kota ke kota. yang tak kan mungkin dipilih oleh kepala-kepala yang berpikir terlalu panjang tentang etika.

ini tentang langkah-langkah yang dituntun intuisi… dan getar halus sanubari yang saling bersambutan. berjalinan. langkah-langkah yang berlari putus asa demi menyimpan hangat yang berkerlip lemah di tengah dunia yang kalut.

tak ada kepemilikan atas satu terhadap lainnya. tak ada kita sepanjang masa. only a moment of truth.  a deep warm little time.

percayalah akan itu…

 

 

bagian yang salah dalam perihal kita

diriku hari ini terbuat dari

hati yang menyanyi-nyanyi,

aroma tubuh yang wangi

dan senyum manismu ketika kita berjumpa

 

dalam hal ini aku adalah seekor burung yang tak terjinakkan oleh sangkar atau jewawut dalam cawan. selalu ada dalam diriku yang menginginkan langit lepas. ranting-ranting persinggahan, batu-batu karang, tebing pantai, dan gelegak ombak yang menyambar ke sayap-sayapku.

Demikian juga dirimu, kurasa. Kita menyimpan kerinduan yang sama. Pada deru angin yang penuh ancaman. Pada bahaya mengenggam telur kaca yang rapuh, dan kita membawanya terbang cepat ke tempat-tempat tinggi dalam cakar-cakar yang gemetar.

Bagian paling salah dalam hal ini adalah ketika berpikir. Sesuatu yang menurut banyak orang adalah akal sehat. Padahal, mana sehat antara penuh taktik atau mengikuti kata hati? Mana yang lebih hidup daripada kekinian? Ketika kesadaran kita penuh untuk merasakan, meresapkan, mengalami dan mengada. Bukan dalam kenangan masa lalu. Atau harapan indah di masa depan. Bukan pula pada citra-citra sempurna dan keharusan nilai? Kita adalah saat ini. Tidakkah itu sudah cukup dan hakiki?

roman kembang perjalanan.

It takes two to Tango. Tak pernah sendiri, selalu ada yang menyambut getar, sehalus apapun itu. Dan kerjap yang tercuri di tengah canda khalayak.

Ada kita di jalan itu. Dalam cemerlang purnama tahun itu. Embus angin ketinggian yang menggigilkan hati. Dan saputan kabut yang datang dan pergi. Rentang benang takdir yang bersembunyi di balik lintang kosmis, saling bertaut dalam hangat yang gagu. Diam sesaat yang dalam dan lekat. Milik kita yang tak terenggut.

Batu dan peluh ini tak ada arti. Betapa kita telah begitu letih menanti. Untuk bertemu dan memadu. Kelu dalam resah, hingga puja dan puji hanya berujung di air mata. Tak sanggup lebih lagi. Tak perlu lebih lagi. Inilah semuaku, yang kuperlihatkan padamu.

Jatuh hatiku pada caramu memperjuangkanku; memperjuangkan hal-hal yang kadang terlupa kalau aku berhak atasnya; Tapi asmara itu musiman, sayang. Hanya itu yang kita punya, untuk bertahan sebelum masa meluluhlantakkan kita. Aku lebih ingin percaya kau tengah sungguh-sungguh mengatakannya dengan caramu. Cukuplah itu. Lewat bercangkir-cangkir kopi, makan siang sederhana,… dan gesekan sekilas sisi sepatumu pada mata kakiku. 

Setelah itu… seperti sehelai mayang terhanyut derai hujan, aku terbawa. Kau menyiksaku justru dengan mengatakan kalau kau percaya bahwa aku orang yang kuat. Bahwa kepantasan ini menuntut kekerashatian yang sama gigih. Tepian yang keras dan tajam, terluka aku demi kita pun tak apa.

Bagaimana menyimpan milik kita yang berharga itu … layaknya mutiara benak yang kurebahkan di bantalan hati. Berbinar karena denyar dan debar. Hiduplah kau dalam kenanganku. Satu dari kenang-kenangan terbaik

Pulang

aku sudah melihat hal-hal hebat dan menakjubkan di dunia ini
hanya perlu seorang yang sederhana untuk melengkapi segalanya
dengannya aku tak perlu lagi bicara yang hebat-hebat
tak perlu lagi takut kalah dan terhina
aku bisa pulang ke asalku yang tak berpunya.

bintang jatuh dan pena usang

ketika bintang jatuh ke pangkuan
aku lupa pada duka, kertas dan pena

lalu kelam menjelma terang hari
aku menjadi sibuk:
memetik bunga kembang warna-warni

cinta bukan ilusi
udara lembab dan silir angin
semata karena rembulan selalu teduh dan lembut

segera saja guratan menjadi usang dan kenang
satu-satunya ceda
yang menyisakan cerita
bermuara dari cemas:
seberapa lamakah keabadian menjadi teman?

cinta adalah nafas sebiasa. tidak formal tidak ritual. bukan gebu melainkan dayu, di detak jantungmu.

cinta adalah kekupu yang tak betah di genggamku. menggeletar seakan rapuh, namun meninggalkan lepuh.

Buku Ini Kaupinjam

Tak pernah begini sebelumnya

Aku benci membaca.
Tak bisa lagi kususuri dengan sabar bagaimana huruf-huruf merangkai bunyi suara.
Aku pun tak lagi sigap memetik makna dari jalinan kata-kata.
Begitu terburu-buru, aku ingin cepat berakhir ke ujung kalimat di halaman terbelakang –
melewati begitu saja tukikan tajam alur, liukan peribahasa.

Aku terus mencari-cari, mengendusi kemungkinan dirimu yang terselip di antara aksara,
atau aroma khasmu yang melekat di lembar-lembar… ketika buku ini kaupinjam

Seperti hari yang lain
Kau senyum tersipu malu
Ketika kusapa engkau
Genggamlah hari … Genggamlah hati … ini
*)

Kitab yang kaupinjam. Hatiku yang kaugenggam. Sebuah elegi terlupakan

*) Iwan Fals – Buku Ini Aku Pinjam