Category Archives: gitasmara

roman kembang perjalanan.

It takes two to Tango. Tak pernah sendiri, selalu ada yang menyambut getar, sehalus apapun itu. Dan kerjap yang tercuri di tengah canda khalayak.

Ada kita di jalan itu. Dalam cemerlang purnama tahun itu. Embus angin puncak yang menggigilkan hati. Dan saputan kabut yang datang dan pergi. Rentang benang takdir yang bersembunyi di balik lintang kosmis, saling bertaut dalam hangat yang gagu. Diam sesaat yang dalam dan lekat. Milik kita yang tak terenggut.

Batu dan peluh ini tak ada arti. Betapa kita telah begitu letih menanti. Untuk bertemu dan memadu. Kelu dalam resah, hingga puja dan puji hanya berujung di air mata. Tak sanggup lebih lagi. Tak perlu lebih lagi. Inilah semuaku, yang kuperlihatkan padamu.

Jatuh hatiku pada caramu memperjuangkanku; memperjuangkan hal-hal yang kadang terlupa kalau aku berhak atasnya; Tapi asmara itu musiman, sayang. Hanya itu yang kita punya, untuk bertahan sebelum masa meluluhlantakkan kita. Aku lebih ingin percaya kau tengah sungguh-sungguh mengatakannya dengan caramu. Cukuplah itu. Lewat bercangkir-cangkir kopi, makan siang sederhana,… dan gesekan sekilas sisi sepatumu pada mata kakiku. 

Setelah itu… seperti sehelai mayang terhanyut derai hujan, aku terbawa. Kau menyiksaku justru dengan mengatakan kalau kau percaya bahwa aku orang yang kuat. Bahwa kepantasan ini menuntut kekerashatian yang sama gigih. Tepian yang keras dan tajam, terluka aku demi kita pun tak apa.

Bagaimana menyimpan milik kita yang berharga itu … layaknya mutiara benak yang kurebahkan di bantalan hati. Berbinar karena denyar dan debar. Hiduplah kau dalam kenanganku. Satu dari kenang-kenangan terbaik

Pulang

aku sudah melihat hal-hal hebat dan menakjubkan di dunia ini
hanya perlu seorang yang sederhana untuk melengkapi segalanya
dengannya aku tak perlu lagi bicara yang hebat-hebat
tak perlu lagi takut kalah dan terhina
aku bisa pulang ke asalku yang tak berpunya.

bintang jatuh dan pena usang

ketika bintang jatuh ke pangkuan
aku lupa pada duka, kertas dan pena

lalu kelam menjelma terang hari
aku menjadi sibuk:
memetik bunga kembang warna-warni

cinta bukan ilusi
udara lembab dan silir angin
semata karena rembulan selalu teduh dan lembut

segera saja guratan menjadi usang dan kenang
satu-satunya ceda
yang menyisakan cerita
bermuara dari cemas:
seberapa lamakah keabadian menjadi teman?

cinta adalah nafas sebiasa. tidak formal tidak ritual. bukan gebu melainkan dayu, di detak jantungmu.

cinta adalah kekupu yang tak betah di genggamku. menggeletar seakan rapuh, namun meninggalkan lepuh.

Buku Ini Kaupinjam

Tak pernah begini sebelumnya

Aku benci membaca.
Tak bisa lagi kususuri dengan sabar bagaimana huruf-huruf merangkai bunyi suara.
Aku pun tak lagi sigap memetik makna dari jalinan kata-kata.
Begitu terburu-buru, aku ingin cepat berakhir ke ujung kalimat di halaman terbelakang –
melewati begitu saja tukikan tajam alur, liukan peribahasa.

Aku terus mencari-cari, mengendusi kemungkinan dirimu yang terselip di antara aksara,
atau aroma khasmu yang melekat di lembar-lembar… ketika buku ini kaupinjam

Seperti hari yang lain
Kau senyum tersipu malu
Ketika kusapa engkau
Genggamlah hari … Genggamlah hati … ini
*)

Kitab yang kaupinjam. Hatiku yang kaugenggam. Sebuah elegi terlupakan

*) Iwan Fals – Buku Ini Aku Pinjam

Ma,

untukmu, tak banyak kata. hanya hatiku.

Baru tiga jam aku meninggalkan rumah, namun rasanya sudah kangen sekali. Tiba-tiba aku ingin cepat kembali. Tidur di sebelahmu. Merebahkan kepalaku di perutmu yang dulu pernah kuhuni, lalu mendengarkan dekut lembut yang menandakan kau ada dan selalu menungguku pulang.

Ma, percaya deh, aku akan baik-baik saja. Jangan terlalu banyak cemas tentang aku. Aku kuat dan bahagia karena kau sudah membekaliku dengan segala asupan yang baik dan doa yang rapat setiap hari. Aku aman dan tercukupi karena pesan-pesanmu sudah mengendap di buluh-buluhku.

Sekarang, banyaklah istirahat. Jangan terlalu memaksakan diri. Jaga kesehatanmu. Pastikan kau akan ada saat aku pulang. Aku ingin menyampaikan sendiri kepadamu nanti… kalau aku sudah menemukan dia.

– l –

Selepas Terbang

Hai kau, Wajah yang Tenang,

Ketika aku menuliskan surat ini, rupanya sudah cukup lama sejak aku melepaskanmu. Aku sudah sempat lupa dulu lebih mengakrabimu dengan panggilan apa, elang penjelajah rimbakah? atau, gunung biru? Aku cuma ingat sosok kokoh dan parasmu yang jernih, yang sempat membuatku berpikir, mungkin Tuhan menciptakanmu dari segelas susu putih hangat.

Kalau kemudian ini adalah pucuk surat cinta… harus kuakui, bahwa walaupun aku telah melepasterbangkanmu dengan rela, cinta itu cuma berkurang manifestasinya. Residunya sendiri akan mengerak abadi di sudut hati. Menunggu waktu saja. Aku tetap percaya, pada kehidupan tak bermasa nanti, aku akan dipertemukan kembali denganmu. Aku pernah bilang begitu pada Tuhan…

Jadi, untuk sementara ini cukuplah. Mengenal dan mengharapkanmu sudah membuatku melangkahkan kaki jauh dari batas yang kupikir tadinya tak mungkin kulalui. Keberanian-keberanian untuk mengalahkan kegelisahan sendiri, menjejakkan kaki ke bukit-bukit yang pernah kau lalui, kutempuh hanya demi merasakan bagaimana menjadi kamu. Aku ingin mengecap dingin dan letih yang menggigitimu di puncak pendakian atau rawa-rawa yang senyap. Bahkan kuhikmati kegamangan dan debar haru ketika kau melawat tujuh puncak dunia, kisah-kisah yang sebelumnya tak pernah kudengar. Terima kasih sudah membukakan mata dan mengukuhkan derapku. Kau benar, surga-surga kecil di dunia itu adanya di kesunyian alam.

Seluruh rasa yang pernah menyala padamu itu mungkin serupa gunung-gunung yang kauakrabi. Teguh dan diam, tak berlalu ke mana-mana, bersembunyi dalam relung gua-gua di kelebatan rimbanya.

Ketika surat ini kutulis, kubakar agar abunya terbang sampai di halamanmu, aku tak merasa bersalah sedikit pun. Cinta itu tak bersalah, dia hanya perlu tahu diri akan batas-batas dan tidak menginginkan milik orang lain. Selamanya penilaianku akan tetap sama: kau, lelaki yang mulia.

Sampai jumpa di kemudian.

c o b a
ubunkan rindu bersitatap denganmu
resahkan udara jika sehari tak kausapa
c o b a
sadarkanku selalu ada kau di hariku
simpulkan senyum, kisikkan sapa, unjukkan jumpa
agar terbiasa dan mengampu kehilangan

lakukan sesuatu yang buatku rindu

Api pada Angin*

Dibanding rekapku pada bara, aku lebih butuh kau
Embusmu. Dan hanya embusmu yang bubungkan aku ke puncak
megarkan hangat yang sesak

Menariku dalam belai hasutmu
membakar semak ilalang
tandaskan rindu hingga kandas

Lalu aku ‘nguap lenyap, bersama kenang yang tak padam
Sedang engkau abadi
menembusi lagi hari-hari

.

*inspirasi dari API #SemestaCinta