Category Archives: kalbu

perhentian

“bisa kita berhenti sebentar…?”, kali ini kuberanikan meraup tangan dengan buku-buku yang tegas dan nyata itu. jemari yang pernah begitu kukuh mengenggamku. bukan dengan raup yang ragu. karena kali ini aku sungguh-sungguh, ingin dia mengetahui seluruhku.

kutatap matanya yang mengelam seketika seperti tersengat oleh sentuhanku… “dengarkan aku, Pasha… jangan potong bicaraku. mungkin aku tak akan bicara begini lagi. dan aku tak peduli apa pun yang kaupikirkan. kamu kan ga mau jujur sama perasaanmu dan bersembunyi di balik ketidakbisaanmu berkata-kata… jadi, diamlah sebentar…” . aku ngga bermaksud kasar, aku ingin dia tahu seberapa besar perasaanku.

“aku tahu ini ngga benar. apalagi yang akan kulakukan ini… di satu sisi membuatku bagai santa, tapi aku menipu diriku sendiri. tapi Pasha, apapun yang kaurasakan terhadapku… pulanglah kepadanya, kepada kekasihmu… datangi dia. perlakukan ia dengan lembut dan tulus…. untuk aku. karena aku ngga ingin ini semua menghancurkan kita. aku terlalu sayang sama kamu.”

“dan hentikan leluconmu tentang musim angin selatan. kamu tau benar ini bukan soal gelombang datang dan pergi… atau hal-hal musiman yang akan berlalu. ini bukan sesuatu yang main-main bagiku. aku telah merasakannya jauh lebih lama dari sekadar musim lalu; bukan hanya tiga atau empat bulan ini, sayang… tapi… t a p i … kalaupun ini benar soal musim-musiman… sungguh, aku ingin bertemu denganmu di musim mendatang. bahkan sebagian diriku ingin larut dan hanyut saja kaubawa. empaskan aku sesukamu.

Aku bagimu adalah kebenaran dalam kata-kata
sedangkan
Kau adalah seluruh emosi yang kurasakan

Advertisements

Meredam Remuk

ini adalah saat ketika aku belajar untuk tidak menjadi serakah. dan betapa pelajaran itu terasa sulit,… memerihkan hati. bahwa segala yang kita inginkan tak selalu bisa kita miliki.

Entah apakah aku yang tengah berhalusinasi… atau memang udara di sekitar kita selalu berkabut kelabu dan segalanya boleh abu-abu…? Aku mendengarmu membisikkan itu… dengan segala cara yang bukan kata-kata. Mungkin kita tak ‘kan bisa bersikap adil lagi kepada perasaan karena kita tidak bisa lagi mengaksarakannya.Kau memilih sayap-sayap halus seolah menyapu di wajahku. Menunggu jawab dari tatapku. Tapi tak mudah juga untuk merangkum jawab sementara hatiku meluap-luap.

Aku… sangat ingin bilang padamu… aku merasakan hal yang sama. Menginginkan mimpi-mimpi yang sama. Lalu kita harus merasa cukup dengan siksaan-siksaan ini. Kita harus berbahagia dengan rasa sakit karena dengan itulah kita, aku dan kamu, ada.

Karena kata-kata adalah hal yang terlarang di antara kita. Sementara kita ingin bilang bahwa cinta yang dalam itu sangat menyakitkan.

*Terima kasih kau telah pernah mengungkapkannya…

(in the middle of airing How Would You Feel ?  – Ed Sheeran)

Apa yang dibawa masa lalu ketika ia kembali muncul di hadapanmu? Kamu yang selama ini yakin masa-lalu-biarlah-berlalu. Tetapi masa lalu bukanlah milikmu sendiri. Ada kenangan lain yang tersimpan dalam diri yang lain. Dan ketika ia hadir kembali kau terkesiap, menyadari dirimu tidak lagi sendirian.

Itulah yang kurasakan. Pagi itu. Ketika sosoknya yang tegap menjulang, sedikit lebih gemuk dari di masa lalu, hadir dalam kemeriahan bincang pagi di antara lorong dan cubicle, tak jauh dari pojok kerjaku. Aku terkesiap. Tapi terlalu terlambat untuk menahan langkah. Masa lalu yang bermata elang keburu menangkap gerakku, bagaikan tikus tanah yang terpojok, menabrak dinding beton, tak sanggup kabur menggali dan bersembunyi. Kilasan sesal itu, seandainya ia sempat melihat, segera berlalu dari piringan selaput pelangi. Tergantikan oleh senyum dan sapa yang dipaksa-paksakan selembut mungkin, tanpa lonjakan akibat lonjakan jantung yang tetiba “Hei, ada orang jauh… Kapan datang?”. Dan aku semakin terkesiap ketika ia menyebut namaku. Ia masih ingat! Adakah ia juga ingat segala kebodohan di masa lalu kami? Aku sangat tahu untuk perlu khawatir karena hanya itu satu-satunya kenangan yang sama-sama kami miliki. I was doomed.

Young and restless. Mungkin hanya itu obat penawar jika di antara kami suatu hari terpojok kembali berduaan dan tanpa sengaja saling mengungkit kisah beracun masa lalu. Sungguh, aku tak ingin itu terjadi. Berhari-hari kemudian aku selalu menghindari kemungkinan untuk bertemu dengannya berduaan saja. Bahkan aku begitu sering menghindar dari tatap mata. Setiap ada kesempatan saling mengimbuh percakapan (agar tak terasa terlalu ganjil), selalu terasa kering, rikuh harus menempatkan diri sebagai apa. Basa-basikah? Atau perbincangan di antara teman lama? Adakah ia mengingat masa lalu kami dengan dengan begitu rapat dan lekat? Hanya itu. Sehingga begitu asing untuk diingat ulang karena kami sudah menjadi dua orang yang berbeda. Ia dengan kehidupannya. Sedangkan aku dari pengembaraan yang tak mungkin ia telusuri.

Lalu aku mulai bertanya-tanya kapan waktu akan memulai penguburan terhadap kenangan kami. Kapan waktu akan membersihkan kabut masa lalu yang mengambang di lorong-lorong kantor, di sela-sela cubicle; Kabut kenang-kenangan yang melingkupi hanya kami berdua, sampai mati dan sirna, tak kan muncul lagi. Bersih sehingga mencekiknya seperti benalu terhadap pohon inang (meskipun itu berarti kematian sebagian ingatanku). Sebab sampai sejauh ini waktu dan jarak seakan tidak membuat kami asing, hanya seperti bersembunyi sesaat. Sebab sejauh ini aku selalu merasa terancam, takut kenangan itu akan bangkit, membesar, memperlihatkan taringnya, lalu cakar-cakarnya mulai menggurati kedok-kedok yang kami kenakan, sehingga kami akan saling melihat kembali diri kami sebagai ketelanjangan. Ketelanjangan yang sama ketika masa lalu itu kami ukir bersama, hanya berdua, dengan kebodohan.

Aku tidak tahu, apakah ia tengah bergulat dengan kecamuk yang sama? Apakah ia juga merasakan jeri yang sama, seperti kepada monster yang bersembunyi di ketemaraman. Terasa namun tak terlihat. Dengan ketakutan yang sama. Takut salah satu di antara kami kurang berhati-hati, tergelincir menyenggol dan membangunkannya. Monster itu, yang bernama masa lalu.

ingatan tentang danau

angin bertiup dan membawaku kembali ke danau itu. pagi itu. yang langitnya mendung tipis. dan payung warna-warni menaungi kami.

mengusir dingin dengan klak-klik di ujung telunjuk. pose demi pose. sehelai selendang pelangi menusuk embusan nafas yang mengabut. dan riuh rendah sapa bersama seleret cahaya fajar.

dingin itu masih mengendap di dasar ingatan. dan hatiku seperti sampan yang tengah berlayar perlahan membelah muram.

 

renjana dru

sejak itulah sejarah bermula
dimulai dengan luka

tak terperi bagaimana esok tergambarkan
tetapi memulai kini memang tak semudah kata-kata

tak ada aroma kopi pagi hari
tak ada bangun dini dan menyiapkan diri
seketika ia pergi
sesaat itu juga cahaya seperti mangkir dari jendela

apa gunanya pertanyaan ‘kenapa’ ?
selain mencari cara membebaskan diri dari beban
sebab tak lain kebangkitan adalah dari dalam hati
yang masih juga enggan menjejakkan langkah

blues

ya aku tahu

ketika akhirnya sendiri dan merasa lelah
ada semu-semu di hatimu
lalu segalanya menjadi merah jambu

tidak pernah sendiri. selalu ada yang menangkap getarmu
sehalus apapun. secermat apapun kau menyimpannya.
dia juga menunggu. kakinya melangkah entah.

ya kita pernah tahu

ketika segalanya berupa bayang-bayang
citra yang kita tak ingin dia hilang
satu-satunya cara adalah menyimpannya dalam diam.
tak ingin kehilangan sekali lagi.

kita tak perlu pengadilan
kedamaian adalah harta paling berharga di kehidupan yang telah poranda.
tak bisa ada lagi kerusakan atas semua yang telah dijaga sedemikian kukuh.
apa daya, hati adalah sosok yang begitu gamang.

dan kita tahu

perlu seluruh perjuangan penghabisan untuk memelihara segalanya
tak membiarkan rasa ingin menguasai dan membodohi kita
jangan sampai tetesan tuba menerobos dan meracuni muara-muara

sehabis hujan, langit sangat pendiam…

berbeda dengan curahnya tadi:
yang seperti amuk dan geram tak pandang rupa siapa dihadang – lantang menghentak-hentak kubah senja, sampai tak sempat mentari meronakan jingga;

sehabis hujan, langit sangat pendiam…

di balik dewangga terusap punggung yang lembut dan lembap, tak begitu ingin lagi menanti pagi
cuma bisu. diam yang begitu akrab. temaram nun mendamaikan.

teritis masih terus menitikkan sisa. orang-orang berdiri resah. terus gelisah mencari makna pada waktu, pada usaha, pada jarak, pada kedekatan yang tak jua menjawab. membuat lupa untuk berhenti, tak hendak meresapi hening dan basah. atau sekadar menengok jenak di langit ada apa.

mana yang lebih dulu, apakah taifun atau kesunyian?
mana lebih dulu, antara pilu dan kerinduan?
begitu banyak cerita tentang perjalanan. tetapi cinta adalah penderitaan yang paling dicari. tema yang terlalu sering seperti rinai tak terhitung derainya.

di kamar itu. tak ada lagi beda antara peluh dan titik hujan, keduanya sama menenggelamkan imaji. pada hal mana pikir tak diperlukan lagi, sepanjang hati bisa berkata-kata. yang suaranya tersimak dalam sepi sediam langit selepas badai.

_DSC_0458txtvig

seulas masa lalu

painter
picture from flickr

kuas-kuas ini mengingatkanku padamu
di suatu masa ketika kaumelukis senyumku
kita tak pernah berdusta pada rasa
tak pernah bisa

sekilas namun nyata
seperti wangi bunga ros
luruh di keesokan hari
bukan berarti ia tak pernah ada

terima kasih untuk segalanya
guratan itu akan mengabadi pada selembar kanvas hati