Category Archives: reka aksara

Raflesia

Di antara hukum buah-buah yang jatuh di sekitar pokok utama… selalu ada saja yang melepaskan diri. Menjauh. Bertumbuh dengan sejadinya. Dilupakan oleh induk tetapi sebenarnya masih tetap mengurat darah di sana. Begitulah kehidupan rumpun kami. Hampir terlupakan. Jauh. Bahkan tak dipandang. Bahkan pokok induk itu membenci kami seolah kami bukan apa-apa dari mereka. Bagaikan tak ada mereka di darah kami.

Dan sepanjang masa kehidupannya dipenuhi kebusukan. Tak ada bangkai tetapi baunya menyeruak. Merusak. Kami hanya sekadar bertahan untuk makan. Meskipun kami hidup, bagi mereka kami tetap disebut bangkai.

…..

(bagian 73)

“Apa andilmu dalam hidup kami? Apa yang papa mamamu lakukan atas kehadiran kami? Asal kamu tahu, Darmo tidak pernah diurus dan disayang ayah ibunya, nenek dan kakekmu itu. Apakah papamu pernah bisa cerita apa saja yang dialami Uwak Darmo ketika papamu cuma bisa ngompol dan nangis? Uwakmu itu dijadikan bujang di rumah besar. Kata ayah ibunya, supaya Uwakmu lekas mandiri dan dewasa. Mereka keras tetapi sayang. Apa kamu tahu, semua anak tetap memerlukan belaian kasih sayang ibu? Itu bukan retorika… tetapi Uwakmu tak sempat lagi mendapatkannya karena kelahiran papamu, Oom-oom… dan tante-tantemu…

Jadi… tahu apa kamu tetang kehidupan kami?”

Sas kemudian memilih berhenti … membiarkan kata-katanya diserap oleh anak gadis di depannya.

 

Apa yang dibawa masa lalu ketika ia kembali muncul di hadapanmu? Kamu yang selama ini yakin masa-lalu-biarlah-berlalu. Tetapi masa lalu bukanlah milikmu sendiri. Ada kenangan lain yang tersimpan dalam diri yang lain. Dan ketika ia hadir kembali kau terkesiap, menyadari dirimu tidak lagi sendirian.

Itulah yang kurasakan. Pagi itu. Ketika sosoknya yang tegap menjulang, sedikit lebih gemuk dari di masa lalu, hadir dalam kemeriahan bincang pagi di antara lorong dan cubicle, tak jauh dari pojok kerjaku. Aku terkesiap. Tapi terlalu terlambat untuk menahan langkah. Masa lalu yang bermata elang keburu menangkap gerakku, bagaikan tikus tanah yang terpojok, menabrak dinding beton, tak sanggup kabur menggali dan bersembunyi. Kilasan sesal itu, seandainya ia sempat melihat, segera berlalu dari piringan selaput pelangi. Tergantikan oleh senyum dan sapa yang dipaksa-paksakan selembut mungkin, tanpa lonjakan akibat lonjakan jantung yang tetiba “Hei, ada orang jauh… Kapan datang?”. Dan aku semakin terkesiap ketika ia menyebut namaku. Ia masih ingat! Adakah ia juga ingat segala kebodohan di masa lalu kami? Aku sangat tahu untuk perlu khawatir karena hanya itu satu-satunya kenangan yang sama-sama kami miliki. I was doomed.

Young and restless. Mungkin hanya itu obat penawar jika di antara kami suatu hari terpojok kembali berduaan dan tanpa sengaja saling mengungkit kisah beracun masa lalu. Sungguh, aku tak ingin itu terjadi. Berhari-hari kemudian aku selalu menghindari kemungkinan untuk bertemu dengannya berduaan saja. Bahkan aku begitu sering menghindar dari tatap mata. Setiap ada kesempatan saling mengimbuh percakapan (agar tak terasa terlalu ganjil), selalu terasa kering, rikuh harus menempatkan diri sebagai apa. Basa-basikah? Atau perbincangan di antara teman lama? Adakah ia mengingat masa lalu kami dengan dengan begitu rapat dan lekat? Hanya itu. Sehingga begitu asing untuk diingat ulang karena kami sudah menjadi dua orang yang berbeda. Ia dengan kehidupannya. Sedangkan aku dari pengembaraan yang tak mungkin ia telusuri.

Lalu aku mulai bertanya-tanya kapan waktu akan memulai penguburan terhadap kenangan kami. Kapan waktu akan membersihkan kabut masa lalu yang mengambang di lorong-lorong kantor, di sela-sela cubicle; Kabut kenang-kenangan yang melingkupi hanya kami berdua, sampai mati dan sirna, tak kan muncul lagi. Bersih sehingga mencekiknya seperti benalu terhadap pohon inang (meskipun itu berarti kematian sebagian ingatanku). Sebab sampai sejauh ini waktu dan jarak seakan tidak membuat kami asing, hanya seperti bersembunyi sesaat. Sebab sejauh ini aku selalu merasa terancam, takut kenangan itu akan bangkit, membesar, memperlihatkan taringnya, lalu cakar-cakarnya mulai menggurati kedok-kedok yang kami kenakan, sehingga kami akan saling melihat kembali diri kami sebagai ketelanjangan. Ketelanjangan yang sama ketika masa lalu itu kami ukir bersama, hanya berdua, dengan kebodohan.

Aku tidak tahu, apakah ia tengah bergulat dengan kecamuk yang sama? Apakah ia juga merasakan jeri yang sama, seperti kepada monster yang bersembunyi di ketemaraman. Terasa namun tak terlihat. Dengan ketakutan yang sama. Takut salah satu di antara kami kurang berhati-hati, tergelincir menyenggol dan membangunkannya. Monster itu, yang bernama masa lalu.

paragraf-paragraf yang kumulai dengan sepertinya

sepertinya aku harus menulis sesuatu hari ini
tidak tahu persis apa. yang kuingat rasa geram. berarti juga dendam. dendam akan sesuatu yang salah yang terjadi hari ini, tetapi aku belum sempat membuat perbaikan. bahkan aku tak melakukan apa-apa ketika kesalahan itu terjadi. dendamku adalah kepada diri sendiri. karena sesudahnya aku membiarkan kesalahan itu bersinambung, menjadi kebenaran yang baru yang sama sekali salah.

sepertinya aku tidak boleh membiarkan pikiranku berkelana jauh-jauh.
begitu selalu pesan ibuku, kalau bepergian bawalah payung. mana tahu hari akan hujan, atau setidaknya bisa menaungi dari terik. seperti kebanyakan anak-anak lain, yang aku pahami payung itu menambah berat bawaanku. untuk keserbaan tahan air, panas, dan angin haruslah menggunakan bahan bermutu baik. dulu, aku tidak tahu ‘mutu-baik’ itu artinya bahannya berat. jahitannya rangkap dua. kuat sekali. lalu aku sembunyi-sembunyi tidak membawa payung lagi. dan sekarang pikiranku kepanasan.

sepertinya aku akan berbaikan saja dengan kekasihku
setelah pertengkaran kecil dan bersiasat ngambek… aku kemudian sadar sisi kanak-kanak tidak pernah benar-benar hilang dariku. ah, itu sebenarnya sangat konyol. jika kaupakai nalarmu baik-baik, tak ada masalah yang tak terpecahkan. namun aku juga tahu, nalar dan logika itu kering. kisah jadi tak punya kesan.

sepertinya aku telah mengambil sikap yang membuatku tidak terlalu diberpihaki
tapi apa peduliku dengan pikiran mereka? toh mereka tak pernah benar-benar empati dengan keadaan siapa pun, apalagi terhadapku. mereka cuma perlu melihat kejatuhan orang lain supaya hidup mereka terasa lebih baik. kasihan sekali.

sepertinya rencana-rencana tak semua berjalan lancar. tetapi demikianlah kata orang-orang bijak, tak ada yang sempurna. hanya saja aku merasa selalu berada di saat ketidaksempurnaan terjadi. mungkin aku harus melihatnya sebagai bahwa kekerapanku di ketidaksempurnaan adalah sebuah rancangan yang sempurna. tak meleset sedikit pun.

sepertinya aku akan menuliskan sesuatu tentang dedaun, rumputan, padang yang luas.
aku merasa perlu pergi ke luar yang membebaskanku menghirup angin sepoi dan serbuk sari yang membuatku berbangkis-bangkis. tak apa. daya pendorong yang kuat nyatanya ada di dalam peristiwa berbangkis. tapi jangan sampai ketahuan oleh ibu – dia bisa menahanku di dalam rumah karena ia sangka aku terserang influenza.

sepertinya…
aku harus menyudahi sampai di sini dulu

maca-lova

Seperti apa ya cintamu itu? Lembut. Lesap di lidah. Mengingatkanku pada sesuatu.
Seandainya apa kasihmu itu? Maniiiis sekali. Sampai aku sakit gigi kaulumuri. Seringkali aku tak tahan dibuatnya.
Seperti macaroon. Lembutnya tak tertahankan. Manisnya menusukku sampai ke syaraf. Juga rapuh. Mudah luruh bersama waktu yang terus menua.
Aku tak tahan.

Cukup sudah perkenalan; Semua yang dimulai dengan terpikatnya pandangan dan imaji di balik warna-warni. Perlu sesuatu yang pahit untuk menikmatimu. Lalu, kau mau aku selalu jadi kopi pahit tanpa gula itu? Atau teh kalat pekat yang menjengitkan alis? Kau akan jadi memikat sementara aku akan terus kelam.

Mungkin kita paduan yang paling padan tetapi aku tak lagi bahagia.

maca1

MAAFKAN
(sebuah fragmen)

“Tulisanmu kecil-kecil, aku susah membacanya”, keluhmu
“Jadi, sudah kaubaca?”, tanyaku
“Belum… Aku ketiduran semalam… tadi pagi aku buru-buru menyelesaikan tugas dan harus segera mengirimkannya, jadi…”, kau mulai sibuk membuat penjelasan
“… belum sempat menyelesaikannya…?”, potongku
“Iya. Sorry. Nanti malam ya…”, kau berhenti sampai di situ.
Bagus. Aku toh tidak perlu penjelasan kenapa harus benar kalau kau tidak sempat membaca paperku. Aku cuma ingin tahu seberapa penting ini buatmu.
“Ya sudah… nanti saja kalau kamu betul-betul sudah leluasa”. Aku muak sendiri dengan sopan santun yang kulontarkan. Setelan standar. Aku merasa tidak perlu merepotkan orang lain yang pasti juga sudah repot dengan mengatur bangun pagi tepat waktu, bersiap-siap pergi kerja, dan segudang masalah hidup lainnya…

Tapi kita bukan orang lain. Aku bagimu. Kau bagiku. Atau mungkin aku yang sudah lalai bahwa kita mungkin sudah menjadi orang lain satu bagi yang lain sejak beberapa waktu lalu? Aku tersesat, hilang orientasi, untuk mencari tahu kapan waktu yang kumaksud itu. Apa aku yang memulai semua ini, sehingga lalai untuk memperhatikan keperluanmu, sehingga kau membuat kesibukan selama aku melupakan adamu?

“Tiar…”, kataku sekembali dari keterhenyakan. Kau masih menatap dan menata lembar-lembar di meja kerja di depanmu
“hmmm…?”, kau mengangkat pandangan sejenak dari kertas-kertas itu
“Kita perlu bicara…”, aku langsung mengetengahkan maksud
“Iya… silakan. Apa itu?”, katamu. Kembali ke kertas-kertas
“Tiar…”, aku maju, merenggut jemarimu dari kertas-kertas itu. Aku perlu perhatianmu penuh. Kau menatapku sedikit kaget dari balik bingkai kacamata.
“Besok kita pergi ya… Satu minggu. Aku akan tinggalkan semua berkasku di sini. Aku cuma mau ada kamu dan aku… Ya…?”, heran sendiri aku memberondongmu seperti itu. Tapi lihat efeknya. Sorot terkejutmu memudar. Otot-otot jarimu melemah dari ketegangan. Lalu berganti menyambut jemariku. Pandangan itu seperti sedikit tersenyum lembut, seperti ada binar samar-samar, lalu seperti mengerti kau balik menatap dalam.
“OK… Kamu mau itu? Aku bisa bereskan semuanya hari ini…”, jawabmu tanpa ragu
Aku ganti terkejut dengan kesanggupanmu yang sekejap itu. Mau tak mau aku jadi tersenyum rikuh. Kulepaskan genggamanku dan perlahan mundur ke arah pintu ruang kerjamu
“OK. … Terima kasih sebelumnya… Aku.. Aku pamit dulu..”, masih sedikit aku tak percaya dengan perubahan suasana ini. Kau cuma tersenyum-senyum di balik mejamu
“Dien, kamu mau aku bawa berkas-berkasmu nanti…?”, kau berseru sesaat sebelum aku menghilang
“Oh…. soal itu, terserah kamu. Mungkin sudah tidak urgent lagi…”, balasku sambil langsung berlalu dengan runduk. Sekilas aku masih melihatmu tersenyum.

Waktu. Kita telah kehilangan waktu. Bukan, bukan kehilangan. Melewatkan atau menyia-nyiakan lebih tepatnya. Mungkin sekarang aku ingin menebusnya. Aku cukup bersyukur kau langsung menanggapinya tanpa banyak sengketa. Kau seperti telah mengerti kecamuk di benakku. Semoga ini memang bisa menebusnya. Maafkan aku.

koral

Kecil bergelinciran
menghuni dasar yang kasar dan sunyi

Diam-diam mewarnai kelam
dengan semburat warna alam

Lalu dengan tabah pula
mengendapkan keruh,
menyimpan jenuh yang luruh

Jemariku mengaduk-aduk dalam lamunan
pada kenangan yang pepat di dasar
tak hendak larut dibawa arus