Category Archives: reka aksara

#1821

Minggu pagi ini aku bangun di samping lelaki yang menikahiku lima tahun lalu.

Apakah dia pemilik hatiku? Hei, kenapa belakangan pertanyaan-pertanyaan eksistensial muncul di kepalaku? Ah, pasti aku kurang kerjaan. Segera saja pikiran kualihkan ngembara ke seluk-beluk dapur, berusaha mengingat komposisi terakhir semalam untuk kuputuskan mulai beres-beres dari mana. Rutinitas rumah tangga. Bahkan di hari libur harus mulai dari dapur.

Tunggu. Buka jendela-jendela dulu supaya udara pagi memenuhi hunian. Hari masih temaram, mendung pula. Di kejauhan pandang kelip lampu halaman tetangga masih meriah. Rasanya sudah azan subuh, tapi suasana masih seperti ba’da isya. Satu dua kodok berlompatan antar kubangan di jalan aspal. Dedaun berayun-ayum dalam embus angin. Dingin. Maka cicak-cicak yang mencari hangat berkelompok memeluk tiang listrik.

Berbalik, kumenghadap meja makan yang berantakan. Hidangan terakhir semalam adalah semangkuk sekoteng hangat. Kubiarkan bekas-bekasnya tertinggal karena kami terhanyut dalam perbincangan lalu percumbuan. Malam tadi kami awali dengan menonton televisi, sampai kemudian terdengar klinting-klinting suara gelas diketuk sendok milik penjaja sekoteng. Kami memanggilnya. Obrolan berlanjut ditingkahi hangat wedangan. Tak tahu lagi apa yang disajikan kotak kaca televisi, yang paling akhir kuingat adalah reklame sebuah programa, bunyinya “Suka-suka Night, mau disambi apapun aktivitasmu asalkan diiringi musik dangdut”. .
*ichikiwirrrr*

@30haribercerita

#30haribercerita #30hbc1821 #30hbc18mengarang #30hbc18slr #dangdutan #fiksi #fiksidangdut #30haribercerita2018

Advertisements

Cantik…

P_20180106_122856_1

Apakah cantik menurutmu?
Aku sudah lama tidak penasaran dan memusingkan definisi kata itu. Karena terlalu rumit. Terlalu banyak aspek yang harus ditimbang dan dikaitkan. Mending kalau cuma soal tampilan visual. Tapi sejak kampanye “Beauty, Brain, Behaviour” cantik, katanya, harus melibatkan aspek non-visual. Akibatnya, kamu harus kenal seseorang luar dan dalam untuk menyebutnya cantik. Yang tidak dikenal ya tidak cantik jadinya. .
Ada juga yang dekaaaat sekali, tetapi selama kenal, rasanya tidak perlu predikat itu untuk memelihara kedekatan, padahal dia benar-benar cantik luar dan dalam, lengkap dengan segala kekurangannya. Tahu-tahu kita tersadar membutuhkan kedekatan itu lebih lebih lebih daripada membutuhkan kecantikannya. Iya, karena kecantikan itu temporer. .
Akhirnya aku jarang bilang “cantik” ke orang lain dengan macam-macam ukuran. Ribet. Tetapi bisa saja tetiba aku bilang “orang itu cantik sekali”, padahal aku tidak kenal dan kami berjarak. Bukan karena visualnya menampakkan demikian. Aku tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Cantik itu ternyata dipancarkan dan untuk dirasakan.
.
Dan tetap benar, bahwa kita butuh orang lain bukan karena kecantikannya. Karena cantik bukan jaminan.
@30haribercerita
#30haribercerita #30hbc1809 #30hbc18slr  #30haribercerita2018

Tolong ingatkan saya, mulai hari ini, kalau-kalau kau mendapatiku tengah mabuk, banyak bicara dan meracau. Sebab hari ini sepertinya saya telah mencapai pengetahuan bahwa padi yang bernas itu memang seyogyanya runduk dan senyap. Ia tidak bicara jika tak perlu atau tak ditanya. Ia tak berisik ketika terpapar luka. Ia mengamati dengan seksama dan tidak apriori. Jika bicara ia bijak dan tidak takut. Terutama, ia tidak takut dianggap bodoh. Dan itu sejalan dengan Pengetahuan yang arif, bahwa tak ada pertanyaan yang bodoh.

.

Seringkali orang jadi banyak bicara dan bercanda sesungguhnya bukan demi menyenangkan orang lain, melainkan demi menutupi lukanya sendiri. Ia haus dan memohon pertolongan orang lain dengan menarik perhatian (itulah yang dikatakan para komika, komedi berangkat dari kegelisahan dalam diri). Sedangkan ia yang murni berbahagia akan tersenyum teduh dan tidak meraih kesenangan dari menghinakan (bullying) orang lain. Oh, apa kau juga tahu dan merasakan bahwa banyak tertawa membuatmu ketagihan sampai-sampai otot-otot hatimu kaku dan beku?

Tolong ingatkan saya juga jika terlalu angkuh untuk mengakui ketidaktahuan saya. Karena sesungguhnya ketika kita banyak tahu maka semakin banyak yang tidak kita ketahui.

.

Tolong ingatkan saya untuk banyak-banyak istighfar; mengadu dan berpegang hanya kepada Allah.

.

@30haribercerita
#30haribercerita #30hbc1802 #30hbc18slr

#1801

Permulaan ini diwarnai oleh banyak kesudahan. Akhir. Perpisahan. Pergi jauh. Ucapan selamat tinggal.
Tetapi kau memandangnya dengan berbeda. Hal-hal yang kami abaikan dan malah lebih sering kami gerutui, kami protes… sepertinya bagimu adalah bumbu yang menyedapkan kisah, mewarnai perjalanan. Dan kamu benar. Satu persatu cerita yang manis, seru, menggelikan terputar ulang bagaikan tengah menekan tombol ‘Rewind’. Di sini, ketika sudah jauh berlalu, semuanya jadi indah. Bahkan kami menihilkan hal-hal yang tidak mengenakan hati, padahal ketika menjalaninya dulu serasa runtuh dunia.

Sepersekian detik yang berlalu sekalipun, adalah jarak terjauh, yang mustahil ditempuh kembali. Tak ada masa lagi untuk menyesali yang terlewat karena toh tak mungkin diperbaiki. Kami belajar dengan keras untuk mencapai kesadaran itu. Tak ada jalan lain kecuali menjalani waktu dengan kesadaran penuh, cherish-every-moment-of-truth.

Kau tahu sekali bahwa kami, meskipun fasih berteori tentang perubahan, kami terlalu mencintai kemapanan. Kami tak pernah benar-benar bisa ridho dengan jarak dan perpisahan ini, kalau saja tak kami dapati pesanmu di lembar terakhir buku petualangan kita. Kau bilang “terima kasih atas segala kenang-kenangan selama ini, baik itu manis maupun pahit. Sekarang, waktunya menempuh petualangan baru, sambut dan bersuka citalah menjalaninya.”

Iya, kami harus maju lagi. Tegakkan kepala, menyimpan kenangan baik, dan melangkahkan kaki.

Selamat datang era baru.

@30haribercerita

#30HBC1801 #30haribercerita #30HBC18slr

Raflesia

Di antara hukum buah-buah yang jatuh di sekitar pokok utama… selalu ada saja yang melepaskan diri. Menjauh. Bertumbuh dengan sejadinya. Dilupakan oleh induk tetapi sebenarnya masih tetap mengurat darah di sana. Begitulah kehidupan rumpun kami. Hampir terlupakan. Jauh. Bahkan tak dipandang. Bahkan pokok induk itu membenci kami seolah kami bukan apa-apa dari mereka. Bagaikan tak ada mereka di darah kami.

Dan sepanjang masa kehidupannya dipenuhi kebusukan. Tak ada bangkai tetapi baunya menyeruak. Merusak. Kami hanya sekadar bertahan untuk makan. Meskipun kami hidup, bagi mereka kami tetap disebut bangkai.

…..

(bagian 73)

“Apa andilmu dalam hidup kami? Apa yang papa mamamu lakukan atas kehadiran kami? Asal kamu tahu, Darmo tidak pernah diurus dan disayang ayah ibunya, nenek dan kakekmu itu. Apakah papamu pernah bisa cerita apa saja yang dialami Uwak Darmo ketika papamu cuma bisa ngompol dan nangis? Uwakmu itu dijadikan bujang di rumah besar. Kata ayah ibunya, supaya Uwakmu lekas mandiri dan dewasa. Mereka keras tetapi sayang. Apa kamu tahu, semua anak tetap memerlukan belaian kasih sayang ibu? Itu bukan retorika… tetapi Uwakmu tak sempat lagi mendapatkannya karena kelahiran papamu, Oom-oom… dan tante-tantemu…

Jadi… tahu apa kamu tetang kehidupan kami?”

Sas kemudian memilih berhenti … membiarkan kata-katanya diserap oleh anak gadis di depannya.

 

Apa yang dibawa masa lalu ketika ia kembali muncul di hadapanmu? Kamu yang selama ini yakin masa-lalu-biarlah-berlalu. Tetapi masa lalu bukanlah milikmu sendiri. Ada kenangan lain yang tersimpan dalam diri yang lain. Dan ketika ia hadir kembali kau terkesiap, menyadari dirimu tidak lagi sendirian.

Itulah yang kurasakan. Pagi itu. Ketika sosoknya yang tegap menjulang, sedikit lebih gemuk dari di masa lalu, hadir dalam kemeriahan bincang pagi di antara lorong dan cubicle, tak jauh dari pojok kerjaku. Aku terkesiap. Tapi terlalu terlambat untuk menahan langkah. Masa lalu yang bermata elang keburu menangkap gerakku, bagaikan tikus tanah yang terpojok, menabrak dinding beton, tak sanggup kabur menggali dan bersembunyi. Kilasan sesal itu, seandainya ia sempat melihat, segera berlalu dari piringan selaput pelangi. Tergantikan oleh senyum dan sapa yang dipaksa-paksakan selembut mungkin, tanpa lonjakan akibat lonjakan jantung yang tetiba “Hei, ada orang jauh… Kapan datang?”. Dan aku semakin terkesiap ketika ia menyebut namaku. Ia masih ingat! Adakah ia juga ingat segala kebodohan di masa lalu kami? Aku sangat tahu untuk perlu khawatir karena hanya itu satu-satunya kenangan yang sama-sama kami miliki. I was doomed.

Young and restless. Mungkin hanya itu obat penawar jika di antara kami suatu hari terpojok kembali berduaan dan tanpa sengaja saling mengungkit kisah beracun masa lalu. Sungguh, aku tak ingin itu terjadi. Berhari-hari kemudian aku selalu menghindari kemungkinan untuk bertemu dengannya berduaan saja. Bahkan aku begitu sering menghindar dari tatap mata. Setiap ada kesempatan saling mengimbuh percakapan (agar tak terasa terlalu ganjil), selalu terasa kering, rikuh harus menempatkan diri sebagai apa. Basa-basikah? Atau perbincangan di antara teman lama? Adakah ia mengingat masa lalu kami dengan dengan begitu rapat dan lekat? Hanya itu. Sehingga begitu asing untuk diingat ulang karena kami sudah menjadi dua orang yang berbeda. Ia dengan kehidupannya. Sedangkan aku dari pengembaraan yang tak mungkin ia telusuri.

Lalu aku mulai bertanya-tanya kapan waktu akan memulai penguburan terhadap kenangan kami. Kapan waktu akan membersihkan kabut masa lalu yang mengambang di lorong-lorong kantor, di sela-sela cubicle; Kabut kenang-kenangan yang melingkupi hanya kami berdua, sampai mati dan sirna, tak kan muncul lagi. Bersih sehingga mencekiknya seperti benalu terhadap pohon inang (meskipun itu berarti kematian sebagian ingatanku). Sebab sampai sejauh ini waktu dan jarak seakan tidak membuat kami asing, hanya seperti bersembunyi sesaat. Sebab sejauh ini aku selalu merasa terancam, takut kenangan itu akan bangkit, membesar, memperlihatkan taringnya, lalu cakar-cakarnya mulai menggurati kedok-kedok yang kami kenakan, sehingga kami akan saling melihat kembali diri kami sebagai ketelanjangan. Ketelanjangan yang sama ketika masa lalu itu kami ukir bersama, hanya berdua, dengan kebodohan.

Aku tidak tahu, apakah ia tengah bergulat dengan kecamuk yang sama? Apakah ia juga merasakan jeri yang sama, seperti kepada monster yang bersembunyi di ketemaraman. Terasa namun tak terlihat. Dengan ketakutan yang sama. Takut salah satu di antara kami kurang berhati-hati, tergelincir menyenggol dan membangunkannya. Monster itu, yang bernama masa lalu.

paragraf-paragraf yang kumulai dengan sepertinya

sepertinya aku harus menulis sesuatu hari ini
tidak tahu persis apa. yang kuingat rasa geram. berarti juga dendam. dendam akan sesuatu yang salah yang terjadi hari ini, tetapi aku belum sempat membuat perbaikan. bahkan aku tak melakukan apa-apa ketika kesalahan itu terjadi. dendamku adalah kepada diri sendiri. karena sesudahnya aku membiarkan kesalahan itu bersinambung, menjadi kebenaran yang baru yang sama sekali salah.

sepertinya aku tidak boleh membiarkan pikiranku berkelana jauh-jauh.
begitu selalu pesan ibuku, kalau bepergian bawalah payung. mana tahu hari akan hujan, atau setidaknya bisa menaungi dari terik. seperti kebanyakan anak-anak lain, yang aku pahami payung itu menambah berat bawaanku. untuk keserbaan tahan air, panas, dan angin haruslah menggunakan bahan bermutu baik. dulu, aku tidak tahu ‘mutu-baik’ itu artinya bahannya berat. jahitannya rangkap dua. kuat sekali. lalu aku sembunyi-sembunyi tidak membawa payung lagi. dan sekarang pikiranku kepanasan.

sepertinya aku akan berbaikan saja dengan kekasihku
setelah pertengkaran kecil dan bersiasat ngambek… aku kemudian sadar sisi kanak-kanak tidak pernah benar-benar hilang dariku. ah, itu sebenarnya sangat konyol. jika kaupakai nalarmu baik-baik, tak ada masalah yang tak terpecahkan. namun aku juga tahu, nalar dan logika itu kering. kisah jadi tak punya kesan.

sepertinya aku telah mengambil sikap yang membuatku tidak terlalu diberpihaki
tapi apa peduliku dengan pikiran mereka? toh mereka tak pernah benar-benar empati dengan keadaan siapa pun, apalagi terhadapku. mereka cuma perlu melihat kejatuhan orang lain supaya hidup mereka terasa lebih baik. kasihan sekali.

sepertinya rencana-rencana tak semua berjalan lancar. tetapi demikianlah kata orang-orang bijak, tak ada yang sempurna. hanya saja aku merasa selalu berada di saat ketidaksempurnaan terjadi. mungkin aku harus melihatnya sebagai bahwa kekerapanku di ketidaksempurnaan adalah sebuah rancangan yang sempurna. tak meleset sedikit pun.

sepertinya aku akan menuliskan sesuatu tentang dedaun, rumputan, padang yang luas.
aku merasa perlu pergi ke luar yang membebaskanku menghirup angin sepoi dan serbuk sari yang membuatku berbangkis-bangkis. tak apa. daya pendorong yang kuat nyatanya ada di dalam peristiwa berbangkis. tapi jangan sampai ketahuan oleh ibu – dia bisa menahanku di dalam rumah karena ia sangka aku terserang influenza.

sepertinya…
aku harus menyudahi sampai di sini dulu

maca-lova

Seperti apa ya cintamu itu? Lembut. Lesap di lidah. Mengingatkanku pada sesuatu.
Seandainya apa kasihmu itu? Maniiiis sekali. Sampai aku sakit gigi kaulumuri. Seringkali aku tak tahan dibuatnya.
Seperti macaroon. Lembutnya tak tertahankan. Manisnya menusukku sampai ke syaraf. Juga rapuh. Mudah luruh bersama waktu yang terus menua.
Aku tak tahan.

Cukup sudah perkenalan; Semua yang dimulai dengan terpikatnya pandangan dan imaji di balik warna-warni. Perlu sesuatu yang pahit untuk menikmatimu. Lalu, kau mau aku selalu jadi kopi pahit tanpa gula itu? Atau teh kalat pekat yang menjengitkan alis? Kau akan jadi memikat sementara aku akan terus kelam.

Mungkin kita paduan yang paling padan tetapi aku tak lagi bahagia.

maca1