catatan hari ini

Seseorang di meja seberang itu melambaikan bilyet dan tersenyum ke arahku. Pelayan menghampiriku dan berkata “pesanan mbak sudah dibayar oleh tuan itu”. Wow, mengagetkan. Tak ada lain yang kulakukan sedari tadi selain menghabiskan sepiring nasi goreng cakalang dengan khidmat; menyesap es teh leci; dan menuliskan beberapa kalimat di buku kecil ini. Catatan harianku. 

Dia, lelaki di seberang itu, kulihat baru saja menyelesaikan lembar-lembar terakhir novel yang menemani rehatnya. Dia telah selesai di sini dan terlihat merangkum diri dan bawaannya untuk pulang. Ketika ia melintas mejaku sebelum menuju pintu ke luar, kusambutnya dengan tanya “Terima kasih. Tapi kenapa…?”

“Karena anda begitu tekun menuliskan banyak hal… dan saya sangat suka membaca diary…”

weheartit
weheartit

Sebuah Jalan di Collioure

Di jalan itu kita tersesat
bukan tentang arah, tetapi ingatan yang sejenak melupakan
Kartu-kartu pos di kedai kecil untuk dikirimkan ke tanah air
perlukah?
orang-orang di rumah tak akan pernah benar-benar tahu rasanya
Hari ini untuk diri sendiri
beserta angin sepoi-sepoi pantai, sinar matahari, dan deru ombak memecah di tanggul batu

Menyusur jalan itu kita sampai di tepi lautan
kecipak yang juga sudah mengembara dari seberang benua
biru yang sama dengan samudra di tanah air
Haruskah kita cerita warna dan hangatnya?
orang-orang di rumah tak benar-benar peduli bagaimana rasanya
Mereka hanya ingin tahu bahwa kita baik-baik saja
Itu sudah cukup

Pada jalan-jalan itu kita merekam
gambar-gambar dari benda yang tak semua kita mengerti maknanya
Ia hanya berbeda dan kita ingin menyimpannya sebagai pengingat
bahwa kita pernah bersentuhan
dan merasakan yang bukan tanah air sendiri
Rasa, yang meskipun kaubagi, orang-orang tak ‘kan pernah benar-benar mengerti.

photo by Yutera
photo by Yutera

Unsur Penyusun Malam

+ Menurutmu, malam terbuat dari apa?
Semangkuk tinta gurita dan tumpahan serbuk glitter

+ Kenapa glitter?
untuk bintang-bintangnya

+ O ya… tentu saja. Bagaimana dengan mimpi?
(tercenung sejenak) Begini… Malam sebenarnya bayang-bayang hari terang. Selamanya bayang-bayang itu maya. Mimpi adalah bagaimana kau melihat hari dari sisi yang temaram, lalu kauisi dengan keinginan-keinginan.

+ tapi ada banyak keinginan yang lalu terjadi di terang hari kan?
Ya. Itu kalau kau cukup sabar memetakan keinginan dengan keadaanmu yang sesungguhnya. Tidak terburu-buru seperti banyak dilakukan pecundang.

+ Jadi, kaupercaya hari terang bisa diciptakan dari malam dan mimpi-mimpi?
uhmmmm… semacam itulah

+ ……. Baiklah. Kalau begitu, apa impianmu yang terindah dan ingin kau wujudkan?
……. kurasa, perbincangan malam seperti ini. Aku mau memindahkannya ke terang hari. Perbincangan denganmu.

paragraf-paragraf yang kumulai dengan sepertinya

sepertinya aku harus menulis sesuatu hari ini
tidak tahu persis apa. yang kuingat rasa geram. berarti juga dendam. dendam akan sesuatu yang salah yang terjadi hari ini, tetapi aku belum sempat membuat perbaikan. bahkan aku tak melakukan apa-apa ketika kesalahan itu terjadi. dendamku adalah kepada diri sendiri. karena sesudahnya aku membiarkan kesalahan itu bersinambung, menjadi kebenaran yang baru yang sama sekali salah.

sepertinya aku tidak boleh membiarkan pikiranku berkelana jauh-jauh.
begitu selalu pesan ibuku, kalau bepergian bawalah payung. mana tahu hari akan hujan, atau setidaknya bisa menaungi dari terik. seperti kebanyakan anak-anak lain, yang aku pahami payung itu menambah berat bawaanku. untuk keserbaan tahan air, panas, dan angin haruslah menggunakan bahan bermutu baik. dulu, aku tidak tahu ‘mutu-baik’ itu artinya bahannya berat. jahitannya rangkap dua. kuat sekali. lalu aku sembunyi-sembunyi tidak membawa payung lagi. dan sekarang pikiranku kepanasan.

sepertinya aku akan berbaikan saja dengan kekasihku
setelah pertengkaran kecil dan bersiasat ngambek… aku kemudian sadar sisi kanak-kanak tidak pernah benar-benar hilang dariku. ah, itu sebenarnya sangat konyol. jika kaupakai nalarmu baik-baik, tak ada masalah yang tak terpecahkan. namun aku juga tahu, nalar dan logika itu kering. kisah jadi tak punya kesan.

sepertinya aku telah mengambil sikap yang membuatku tidak terlalu diberpihaki
tapi apa peduliku dengan pikiran mereka? toh mereka tak pernah benar-benar empati dengan keadaan siapa pun, apalagi terhadapku. mereka cuma perlu melihat kejatuhan orang lain supaya hidup mereka terasa lebih baik. kasihan sekali.

sepertinya rencana-rencana tak semua berjalan lancar. tetapi demikianlah kata orang-orang bijak, tak ada yang sempurna. hanya saja aku merasa selalu berada di saat ketidaksempurnaan terjadi. mungkin aku harus melihatnya sebagai bahwa kekerapanku di ketidaksempurnaan adalah sebuah rancangan yang sempurna. tak meleset sedikit pun.

sepertinya aku akan menuliskan sesuatu tentang dedaun, rumputan, padang yang luas.
aku merasa perlu pergi ke luar yang membebaskanku menghirup angin sepoi dan serbuk sari yang membuatku berbangkis-bangkis. tak apa. daya pendorong yang kuat nyatanya ada di dalam peristiwa berbangkis. tapi jangan sampai ketahuan oleh ibu – dia bisa menahanku di dalam rumah karena ia sangka aku terserang influenza.

sepertinya…
aku harus menyudahi sampai di sini dulu

Hujan Cinta Pendemo

Ini kenyataan yang menyedihkan…

Hari ini langit kembali terang dan berdebu. Seperti hari-hari lainnya sepanjang minggu ini. Kata orang-orang, sekarang sudah masuk musim kemarau (akhirnya… setelah siklus cuaca yang kacau-balau). Tapi,… tapi,… kemarin hujan deras. Deras sekali. Tak diduga-duga. Aku sampai lari-lari hujan-hujanan sepulang kerja. Itu masih gerimis miris. Tepat kulangkahkan kaki di depan rumah kos, byaaarrrrr… hujannya tak terbendung lagi.

Kemarin, tanggal satu bulan Mei – May Day, hari yang dianggap sakral bagi para buruh sedunia. Mereka berhimpun hingga puluh atau ratus ribu dalam barisan-barisan. Mereka berpawai di jalan protokol, menuju titik-titik penting lembaga yang berkaitan dengan tenaga kerja dan juga istana. Hari solidaritas buruh. Harinya para buruh melancarkan seruan keras kepada pemerintah (dan seperti tahun lalu, Bapak Presiden malah berdinas ke luar kota… tidak bisa ditemui oleh barisan buruh).

Karena itukah kemudian langit ikut tersedu – merasa prihatin sangat dengan nasib para buruh?

Entah mana yang lebih menyedihkan… dunia yang makin kerontang haus hujan atau nasib buruh?

surat kecil untuk tak bernama

maaf,
aku tidak ingin tahu lebih banyak tentangmu
aku sudah menua, sepertinya
tidak lagi berani untuk mencoba dan melangkah buta
dan dirimu seperti rimba yang terlalu pekat dan mengeluarkan siulan-siulan merdu misteri
memanggil-manggil namun sekaligus menyalakan radar kewaspadaanku – bahwa kau bukan makhluk biasa
ha,
makhluk biasa, kataku
yang biasa bagiku sekarang adalah hal-hal usang. hal-hal yang sudah kuakrabi dalam kurun paling dekat satu hari lalu, muncul tanpa kuminta lalu aku harus belajar mengenalnya. memaksa inderaku untuk menelan, meraba, membaui, mengecap dan meresap.
luar biasa adalah segala sesuatu di depan detik eksistensiku, yang aku enggan mengenalnya sampai benar-benar hadir tanpa kusadar.
kau… seperti itu

tidakkah ini paradoksal?
aku lalu terbiasa dengan dirimu yang selalu berada satu detik di depan eksistensiku. kau selalu di situ, di batas yang tak ingin kuterjang.
bisa jadi… sebenarnya kita adalah kawan lama.