Tag Archives: fiksi

Perempuan dengan Belati

Dulu, waktu ia masih gadis kecil yang baru mekar
Pada suatu siang sepulang sekolah
Di hari yang terang tanpa prasangka
sebilah tapak tangan telah menjamahnya;
Seseorang yang menjulurkan tubuh dari jendela kendaraan;
Wajah yang tak sempat terlihat

Ia terkejut dan berdebar.
Terpaku di pinggir jalan, tanpa arah, tapi juga tanpa tangisan.
Sesegera mungkin ia pulang dan menemui ibunya.
Ibu yang baru pertama kali punya anak gadis dilecehkan.
Masih tanpa tangisan. Dan ibu yang tetap bersuara tenang.
Ia lupakan kejadian itu dalam tidur malamnya.
Tetapi keesokan pagi, Ibunya menyelipkan sebilah pisau lipat.
Kecil, dengan tali benang berwarna ungu.
“Hati-hati. Tegarlah, Nak”, demikian pesan Ibunya.
Sejak itu ia tahu, kapanpun bahaya muncul, ia boleh membela diri sehabis-habisnya.
Ia kembali melewati jalan itu. Tetapi yang dinantikan tak pernah muncul lagi. Meskipun demikian, kini, kemana pun ia pergi, pisau lipat kecil bertali benang ungu selalu bersamanya.

Di masa yang lain,
Ketika ia sudah jauh dewasa dan boleh memutuskan tindakan sendiri;
Ia pergi ke hutan-hutan dan gunung.
Ayah dan ibunya tidak bisa lagi melarang.
Semalam sebelum ia berangkat, Sang Ayah membekalinya sebuah belati. Besar dan berkilat; Terbuat dari baja terbaik dan diasah dengan sangat seksama.
“Bisa untuk menebas ruyug sesemakan dan kaugunakan untuk di dapur”, pesan Ayahnya.

Dengan siapa ia pergi hari itu sebenarnya ia tak permasalahkan. Mereka adalah teman-teman yang bisa dipercaya.
Tetapi pada suatu malam di perkemahan, ia keluarkan juga belatinya. Teman-temannya tercekat; seolah tersadar bahwa mereka tak bisa main-main dengannya. Ia tidak pernah bermaksud mengancam. Belati itu disimpannya di dalam tas yang menjadi alas kepalanya; Tak ia gunakan untuk menebas semak maupun untuk memasak. Rekan-rekan prianya telah melakukan itu semua untuknya tanpa ia perlu bersusah-payah.

Sejak itu, lama sesudahnya… tak banyak gangguan yang ia alami dalam kehidupannya sehari-hari. Pisau lipat dan belati rasanya semakin berat ia sandang dalam kantung atau tasnya. Tanpa sepengetahuan siapa pun, ia simpan benda-benda tajam itu di lemarinya. Rapi dan tersembunyi. Ia kemudian jatuh cinta dan belajar berkata-kata; Memahami kedalaman dan keampuhannya. Kini ia mengetahui bahwa lidah yang tajam bisa tersimpan dan tersembunyi seperti pisau lipat, dan kata-kata bisa melukai serta merusak separah belati baja. Maka ia kemudian memutuskan mengasah lidah, otak, dan pekertinya setekun mengasah belati. Perlu waktu yang lama, sama seperti sebilah baja, untuk mencapai ketajaman dan keampuhan tertentu.

Ia kini bepergian dengan belati di lidahnya. Juga sepasang mata yang menyimpan api. Kesemuanya sama merusak seperti pisau lipat pemberian Ibu, maupun belati titipan Ayahnya. Hati dan pekerti adalah pengendali yang juga perlu dilatih, agar lidah belatinya tidak sembarang melukai orang.
Sebenarnya lidah belati masih memiliki resiko selain keberhasilan mengoyak mental di kedalaman. Yaitu lawannya bisa jadi akan sekadar terluka dan memilih tindakan untuk membalas lebih parah. Untuk kemungkinan kedua ini, ia bersiap untuk berkelahi dengan keringat dan darah. Tangan kosong.

Belati adalah pilihan ketika ia harus menghadapi babi.

Advertisements

Raflesia

Di antara hukum buah-buah yang jatuh di sekitar pokok utama… selalu ada saja yang melepaskan diri. Menjauh. Bertumbuh dengan sejadinya. Dilupakan oleh induk tetapi sebenarnya masih tetap mengurat darah di sana. Begitulah kehidupan rumpun kami. Hampir terlupakan. Jauh. Bahkan tak dipandang. Bahkan pokok induk itu membenci kami seolah kami bukan apa-apa dari mereka. Bagaikan tak ada mereka di darah kami.

Dan sepanjang masa kehidupannya dipenuhi kebusukan. Tak ada bangkai tetapi baunya menyeruak. Merusak. Kami hanya sekadar bertahan untuk makan. Meskipun kami hidup, bagi mereka kami tetap disebut bangkai.

…..

(bagian 73)

“Apa andilmu dalam hidup kami? Apa yang papa mamamu lakukan atas kehadiran kami? Asal kamu tahu, Darmo tidak pernah diurus dan disayang ayah ibunya, nenek dan kakekmu itu. Apakah papamu pernah bisa cerita apa saja yang dialami Uwak Darmo ketika papamu cuma bisa ngompol dan nangis? Uwakmu itu dijadikan bujang di rumah besar. Kata ayah ibunya, supaya Uwakmu lekas mandiri dan dewasa. Mereka keras tetapi sayang. Apa kamu tahu, semua anak tetap memerlukan belaian kasih sayang ibu? Itu bukan retorika… tetapi Uwakmu tak sempat lagi mendapatkannya karena kelahiran papamu, Oom-oom… dan tante-tantemu…

Jadi… tahu apa kamu tetang kehidupan kami?”

Sas kemudian memilih berhenti … membiarkan kata-katanya diserap oleh anak gadis di depannya.

 

MAAFKAN
(sebuah fragmen)

“Tulisanmu kecil-kecil, aku susah membacanya”, keluhmu
“Jadi, sudah kaubaca?”, tanyaku
“Belum… Aku ketiduran semalam… tadi pagi aku buru-buru menyelesaikan tugas dan harus segera mengirimkannya, jadi…”, kau mulai sibuk membuat penjelasan
“… belum sempat menyelesaikannya…?”, potongku
“Iya. Sorry. Nanti malam ya…”, kau berhenti sampai di situ.
Bagus. Aku toh tidak perlu penjelasan kenapa harus benar kalau kau tidak sempat membaca paperku. Aku cuma ingin tahu seberapa penting ini buatmu.
“Ya sudah… nanti saja kalau kamu betul-betul sudah leluasa”. Aku muak sendiri dengan sopan santun yang kulontarkan. Setelan standar. Aku merasa tidak perlu merepotkan orang lain yang pasti juga sudah repot dengan mengatur bangun pagi tepat waktu, bersiap-siap pergi kerja, dan segudang masalah hidup lainnya…

Tapi kita bukan orang lain. Aku bagimu. Kau bagiku. Atau mungkin aku yang sudah lalai bahwa kita mungkin sudah menjadi orang lain satu bagi yang lain sejak beberapa waktu lalu? Aku tersesat, hilang orientasi, untuk mencari tahu kapan waktu yang kumaksud itu. Apa aku yang memulai semua ini, sehingga lalai untuk memperhatikan keperluanmu, sehingga kau membuat kesibukan selama aku melupakan adamu?

“Tiar…”, kataku sekembali dari keterhenyakan. Kau masih menatap dan menata lembar-lembar di meja kerja di depanmu
“hmmm…?”, kau mengangkat pandangan sejenak dari kertas-kertas itu
“Kita perlu bicara…”, aku langsung mengetengahkan maksud
“Iya… silakan. Apa itu?”, katamu. Kembali ke kertas-kertas
“Tiar…”, aku maju, merenggut jemarimu dari kertas-kertas itu. Aku perlu perhatianmu penuh. Kau menatapku sedikit kaget dari balik bingkai kacamata.
“Besok kita pergi ya… Satu minggu. Aku akan tinggalkan semua berkasku di sini. Aku cuma mau ada kamu dan aku… Ya…?”, heran sendiri aku memberondongmu seperti itu. Tapi lihat efeknya. Sorot terkejutmu memudar. Otot-otot jarimu melemah dari ketegangan. Lalu berganti menyambut jemariku. Pandangan itu seperti sedikit tersenyum lembut, seperti ada binar samar-samar, lalu seperti mengerti kau balik menatap dalam.
“OK… Kamu mau itu? Aku bisa bereskan semuanya hari ini…”, jawabmu tanpa ragu
Aku ganti terkejut dengan kesanggupanmu yang sekejap itu. Mau tak mau aku jadi tersenyum rikuh. Kulepaskan genggamanku dan perlahan mundur ke arah pintu ruang kerjamu
“OK. … Terima kasih sebelumnya… Aku.. Aku pamit dulu..”, masih sedikit aku tak percaya dengan perubahan suasana ini. Kau cuma tersenyum-senyum di balik mejamu
“Dien, kamu mau aku bawa berkas-berkasmu nanti…?”, kau berseru sesaat sebelum aku menghilang
“Oh…. soal itu, terserah kamu. Mungkin sudah tidak urgent lagi…”, balasku sambil langsung berlalu dengan runduk. Sekilas aku masih melihatmu tersenyum.

Waktu. Kita telah kehilangan waktu. Bukan, bukan kehilangan. Melewatkan atau menyia-nyiakan lebih tepatnya. Mungkin sekarang aku ingin menebusnya. Aku cukup bersyukur kau langsung menanggapinya tanpa banyak sengketa. Kau seperti telah mengerti kecamuk di benakku. Semoga ini memang bisa menebusnya. Maafkan aku.