All posts by kembangbakung

About kembangbakung

a wife, a mother, and a child who shares her daily stories

part 08 – what we do

“… seperti katamu, ini perjalanan menyusur tepi jurang. berbahaya. tapi pemandangannya indah… kita akan sering terkesima dibuatnya”, katamu. Itu membuatku tersenyum. Manik mata berkilat menyimpan rencana.

” do you know, aku suka kita bicara-bicara seperti ini… tentang banyak hal yang ngga bisa aku obrolkan dengan orang lain”, kataku sambil melemaskan tungkai, melonjor ke bawah meja.

“really? kamu ngga ngobrol begini dengan kekasih kamu di rumah?”, kau malah terkejut

“oh no. bukan begitu. Ya, tentu saja aku juga bicara-bicara begini dengan Sammy. Tapi dengan kamu berbeda…”

“eh…”, buru-buru tanganmu mengacung, membatalkan raupan kepada secangkir kopi yang telah habis seperempat. Perbincangan masih akan panjang.

“o ya yaaa,… aku ga boleh bilang begitu, seperti katamu kan?”, ralatku segera. “Kita semua sama, ngga ada yang lebih istimewa dari yang lain. Kita ini saling mengisi, melengkapi. Yang kurang kaututup, yang lebih kubagikan. Demikian sebaliknya, kau terhadapku.”

“yes, that’s my girl… Kita memilih, memilah langkah dan arah. Jalanilah. Enjoy the trip”, senyummu merebak dan cangkirmu sampai ke bibir.

Kita sama-sama tidak tahu, akan berakhir ke mana perjalanan ini. Kita sama-sama memilih menjalaninya perlahan, tidak buru-buru.

Advertisements

how can I face you…?

how can I face you this morning … or all the coming days?

probably i’ll be afraid
… of not seeing you in the same way
… of losing you

perhaps i’ll be shy
thus my cheeks go pinkish
and my words lost their tracks

tell me how can I ?
for we are not in the same point anymore…
; we are moving somewhere we’d never know
and I really wish you’d still hold my hand firmly

tell me
how can I face you when this heart beats so hard

perhentian

“bisa kita berhenti sebentar…?”, kali ini kuberanikan meraup tangan dengan buku-buku yang tegas dan nyata itu. jemari yang pernah begitu kukuh mengenggamku. bukan dengan raup yang ragu. karena kali ini aku sungguh-sungguh, ingin dia mengetahui seluruhku.

kutatap matanya yang mengelam seketika seperti tersengat oleh sentuhanku… “dengarkan aku, Pasha… jangan potong bicaraku. mungkin aku tak akan bicara begini lagi. dan aku tak peduli apa pun yang kaupikirkan. kamu kan ga mau jujur sama perasaanmu dan bersembunyi di balik ketidakbisaanmu berkata-kata… jadi, diamlah sebentar…” . aku ngga bermaksud kasar, aku ingin dia tahu seberapa besar perasaanku.

“aku tahu ini ngga benar. apalagi yang akan kulakukan ini… di satu sisi membuatku bagai santa, tapi aku menipu diriku sendiri. tapi Pasha, apapun yang kaurasakan terhadapku… pulanglah kepadanya, kepada kekasihmu… datangi dia. perlakukan ia dengan lembut dan tulus…. untuk aku. karena aku ngga ingin ini semua menghancurkan kita. aku terlalu sayang sama kamu.”

“dan hentikan leluconmu tentang musim angin selatan. kamu tau benar ini bukan soal gelombang datang dan pergi… atau hal-hal musiman yang akan berlalu. ini bukan sesuatu yang main-main bagiku. aku telah merasakannya jauh lebih lama dari sekadar musim lalu; bukan hanya tiga atau empat bulan ini, sayang… tapi… t a p i … kalaupun ini benar soal musim-musiman… sungguh, aku ingin bertemu denganmu di musim mendatang. bahkan sebagian diriku ingin larut dan hanyut saja kaubawa. empaskan aku sesukamu.

Aku bagimu adalah kebenaran dalam kata-kata
sedangkan
Kau adalah seluruh emosi yang kurasakan

dua cangkir

caramel macchiato dan Asian dolce latte. ice. siang itu.

dalam terik matahari yang membakar. meninggalkan hangus dari tawa yang berderai dan debam jantung yang menghentikan tarikan nafas.

seharusnya membakar habis juga segala pertanyaan tentang eksistensi. tentang apakah pernah ada…

jarak-jarak yang ditempuh tanpa hirau. bukan hanya ke warung sebelah rumah. ini tentang perhentian dari kota ke kota. yang tak kan mungkin dipilih oleh kepala-kepala yang berpikir terlalu panjang tentang etika.

ini tentang langkah-langkah yang dituntun intuisi… dan getar halus sanubari yang saling bersambutan. berjalinan. langkah-langkah yang berlari putus asa demi menyimpan hangat yang berkerlip lemah di tengah dunia yang kalut.

tak ada kepemilikan atas satu terhadap lainnya. tak ada kita sepanjang masa. only a moment of truth.  a deep warm little time.

percayalah akan itu…

 

 

Meredam Remuk

ini adalah saat ketika aku belajar untuk tidak menjadi serakah. dan betapa pelajaran itu terasa sulit,… memerihkan hati. bahwa segala yang kita inginkan tak selalu bisa kita miliki.

Entah apakah aku yang tengah berhalusinasi… atau memang udara di sekitar kita selalu berkabut kelabu dan segalanya boleh abu-abu…? Aku mendengarmu membisikkan itu… dengan segala cara yang bukan kata-kata. Mungkin kita tak ‘kan bisa bersikap adil lagi kepada perasaan karena kita tidak bisa lagi mengaksarakannya.Kau memilih sayap-sayap halus seolah menyapu di wajahku. Menunggu jawab dari tatapku. Tapi tak mudah juga untuk merangkum jawab sementara hatiku meluap-luap.

Aku… sangat ingin bilang padamu… aku merasakan hal yang sama. Menginginkan mimpi-mimpi yang sama. Lalu kita harus merasa cukup dengan siksaan-siksaan ini. Kita harus berbahagia dengan rasa sakit karena dengan itulah kita, aku dan kamu, ada.

Karena kata-kata adalah hal yang terlarang di antara kita. Sementara kita ingin bilang bahwa cinta yang dalam itu sangat menyakitkan.

*Terima kasih kau telah pernah mengungkapkannya…

(in the middle of airing How Would You Feel ?  – Ed Sheeran)

bagian yang salah dalam perihal kita

diriku hari ini terbuat dari

hati yang menyanyi-nyanyi,

aroma tubuh yang wangi

dan senyum manismu ketika kita berjumpa

 

dalam hal ini aku adalah seekor burung yang tak terjinakkan oleh sangkar atau jewawut dalam cawan. selalu ada dalam diriku yang menginginkan langit lepas. ranting-ranting persinggahan, batu-batu karang, tebing pantai, dan gelegak ombak yang menyambar ke sayap-sayapku.

Demikian juga dirimu, kurasa. Kita menyimpan kerinduan yang sama. Pada deru angin yang penuh ancaman. Pada bahaya mengenggam telur kaca yang rapuh, dan kita membawanya terbang cepat ke tempat-tempat tinggi dalam cakar-cakar yang gemetar.

Bagian paling salah dalam hal ini adalah ketika berpikir. Sesuatu yang menurut banyak orang adalah akal sehat. Padahal, mana sehat antara penuh taktik atau mengikuti kata hati? Mana yang lebih hidup daripada kekinian? Ketika kesadaran kita penuh untuk merasakan, meresapkan, mengalami dan mengada. Bukan dalam kenangan masa lalu. Atau harapan indah di masa depan. Bukan pula pada citra-citra sempurna dan keharusan nilai? Kita adalah saat ini. Tidakkah itu sudah cukup dan hakiki?

Hari yang penuh jatuh cinta adalah ketika :

– mendapatimu mencari-cari keberadaanku

– aku menyisipkan sebilah senyum yang membawa seluruh ruap hangat dari dalam hati

– “hai…” diungkapkan dalam nada rendah dan dalam seolah ia rapuh jika diseru

– kau tak henti tersenyum dan kata-katamu lunak

.

dan kau adalah me-time dari diriku yang selama ini kukenal

roman kembang perjalanan.

It takes two to Tango. Tak pernah sendiri, selalu ada yang menyambut getar, sehalus apapun itu. Dan kerjap yang tercuri di tengah canda khalayak.

Ada kita di jalan itu. Dalam cemerlang purnama tahun itu. Embus angin ketinggian yang menggigilkan hati. Dan saputan kabut yang datang dan pergi. Rentang benang takdir yang bersembunyi di balik lintang kosmis, saling bertaut dalam hangat yang gagu. Diam sesaat yang dalam dan lekat. Milik kita yang tak terenggut.

Batu dan peluh ini tak ada arti. Betapa kita telah begitu letih menanti. Untuk bertemu dan memadu. Kelu dalam resah, hingga puja dan puji hanya berujung di air mata. Tak sanggup lebih lagi. Tak perlu lebih lagi. Inilah semuaku, yang kuperlihatkan padamu.

Jatuh hatiku pada caramu memperjuangkanku; memperjuangkan hal-hal yang kadang terlupa kalau aku berhak atasnya; Tapi asmara itu musiman, sayang. Hanya itu yang kita punya, untuk bertahan sebelum masa meluluhlantakkan kita. Aku lebih ingin percaya kau tengah sungguh-sungguh mengatakannya dengan caramu. Cukuplah itu. Lewat bercangkir-cangkir kopi, makan siang sederhana,… dan gesekan sekilas sisi sepatumu pada mata kakiku. 

Setelah itu… seperti sehelai mayang terhanyut derai hujan, aku terbawa. Kau menyiksaku justru dengan mengatakan kalau kau percaya bahwa aku orang yang kuat. Bahwa kepantasan ini menuntut kekerashatian yang sama gigih. Tepian yang keras dan tajam, terluka aku demi kita pun tak apa.

Bagaimana menyimpan milik kita yang berharga itu … layaknya mutiara benak yang kurebahkan di bantalan hati. Berbinar karena denyar dan debar. Hiduplah kau dalam kenanganku. Satu dari kenang-kenangan terbaik

Raflesia

Di antara hukum buah-buah yang jatuh di sekitar pokok utama… selalu ada saja yang melepaskan diri. Menjauh. Bertumbuh dengan sejadinya. Dilupakan oleh induk tetapi sebenarnya masih tetap mengurat darah di sana. Begitulah kehidupan rumpun kami. Hampir terlupakan. Jauh. Bahkan tak dipandang. Bahkan pokok induk itu membenci kami seolah kami bukan apa-apa dari mereka. Bagaikan tak ada mereka di darah kami.

Dan sepanjang masa kehidupannya dipenuhi kebusukan. Tak ada bangkai tetapi baunya menyeruak. Merusak. Kami hanya sekadar bertahan untuk makan. Meskipun kami hidup, bagi mereka kami tetap disebut bangkai.

…..

(bagian 73)

“Apa andilmu dalam hidup kami? Apa yang papa mamamu lakukan atas kehadiran kami? Asal kamu tahu, Darmo tidak pernah diurus dan disayang ayah ibunya, nenek dan kakekmu itu. Apakah papamu pernah bisa cerita apa saja yang dialami Uwak Darmo ketika papamu cuma bisa ngompol dan nangis? Uwakmu itu dijadikan bujang di rumah besar. Kata ayah ibunya, supaya Uwakmu lekas mandiri dan dewasa. Mereka keras tetapi sayang. Apa kamu tahu, semua anak tetap memerlukan belaian kasih sayang ibu? Itu bukan retorika… tetapi Uwakmu tak sempat lagi mendapatkannya karena kelahiran papamu, Oom-oom… dan tante-tantemu…

Jadi… tahu apa kamu tetang kehidupan kami?”

Sas kemudian memilih berhenti … membiarkan kata-katanya diserap oleh anak gadis di depannya.