All posts by kembangbakung

About kembangbakung

a wife, a mother, and a child who shares her daily stories

Cantik…

P_20180106_122856_1

Apakah cantik menurutmu?
Aku sudah lama tidak penasaran dan memusingkan definisi kata itu. Karena terlalu rumit. Terlalu banyak aspek yang harus ditimbang dan dikaitkan. Mending kalau cuma soal tampilan visual. Tapi sejak kampanye “Beauty, Brain, Behaviour” cantik, katanya, harus melibatkan aspek non-visual. Akibatnya, kamu harus kenal seseorang luar dan dalam untuk menyebutnya cantik. Yang tidak dikenal ya tidak cantik jadinya. .
Ada juga yang dekaaaat sekali, tetapi selama kenal, rasanya tidak perlu predikat itu untuk memelihara kedekatan, padahal dia benar-benar cantik luar dan dalam, lengkap dengan segala kekurangannya. Tahu-tahu kita tersadar membutuhkan kedekatan itu lebih lebih lebih daripada membutuhkan kecantikannya. Iya, karena kecantikan itu temporer. .
Akhirnya aku jarang bilang “cantik” ke orang lain dengan macam-macam ukuran. Ribet. Tetapi bisa saja tetiba aku bilang “orang itu cantik sekali”, padahal aku tidak kenal dan kami berjarak. Bukan karena visualnya menampakkan demikian. Aku tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Cantik itu ternyata dipancarkan dan untuk dirasakan.
.
Dan tetap benar, bahwa kita butuh orang lain bukan karena kecantikannya. Karena cantik bukan jaminan.
@30haribercerita
#30haribercerita #30hbc1809 #30hbc18slr  #30haribercerita2018
Advertisements

Kalau Aku Daun

… Aku ingin jadi daun Belimbing yang pohonnya tumbuh di depan jendela kamarmu.
Pada pagi hari bergoyang, berayun-ayun diterpa angin.
Melambai-lambai bersama surya mencipta bayang yang jatuh di pipimu kala masih terlelap sebentar lagi sebelum memulai hari.

Pada siang menemanimu bermain di taman ini.
Menyiangi gulma, memetik bunga, dan melamun di tepi kolam.
Sedikit jika kuberuntung, kau tata pula arah tumbuh ranting Belimbing atau menghalau ulat dari tubuhku.
Di saat itu kubisa menyimak senandungmu atau keluh duka di dalam hati.

Jikalau aku daun Belimbing itu dan sampai pada hari akhir kala tubuhku menguning dan rapuh, kuingin melayang jatuh ke berandamu.
Di sisi cangkir porselinmu yang pagi itu berisi teh hangat wangi melati.
Lalu akan sangat beruntung kala kaujumput aku dari dunia untuk kauselipkan dalam salah satu lembar buku yang kaubaca.
Bersamamu.
Selamanya.

…. @30haribercerita

#30haribercerita #30hbc1804 #30hbc18slr

Tolong ingatkan saya, mulai hari ini, kalau-kalau kau mendapatiku tengah mabuk, banyak bicara dan meracau. Sebab hari ini sepertinya saya telah mencapai pengetahuan bahwa padi yang bernas itu memang seyogyanya runduk dan senyap. Ia tidak bicara jika tak perlu atau tak ditanya. Ia tak berisik ketika terpapar luka. Ia mengamati dengan seksama dan tidak apriori. Jika bicara ia bijak dan tidak takut. Terutama, ia tidak takut dianggap bodoh. Dan itu sejalan dengan Pengetahuan yang arif, bahwa tak ada pertanyaan yang bodoh.

.

Seringkali orang jadi banyak bicara dan bercanda sesungguhnya bukan demi menyenangkan orang lain, melainkan demi menutupi lukanya sendiri. Ia haus dan memohon pertolongan orang lain dengan menarik perhatian (itulah yang dikatakan para komika, komedi berangkat dari kegelisahan dalam diri). Sedangkan ia yang murni berbahagia akan tersenyum teduh dan tidak meraih kesenangan dari menghinakan (bullying) orang lain. Oh, apa kau juga tahu dan merasakan bahwa banyak tertawa membuatmu ketagihan sampai-sampai otot-otot hatimu kaku dan beku?

Tolong ingatkan saya juga jika terlalu angkuh untuk mengakui ketidaktahuan saya. Karena sesungguhnya ketika kita banyak tahu maka semakin banyak yang tidak kita ketahui.

.

Tolong ingatkan saya untuk banyak-banyak istighfar; mengadu dan berpegang hanya kepada Allah.

.

@30haribercerita
#30haribercerita #30hbc1802 #30hbc18slr

#1801

Permulaan ini diwarnai oleh banyak kesudahan. Akhir. Perpisahan. Pergi jauh. Ucapan selamat tinggal.
Tetapi kau memandangnya dengan berbeda. Hal-hal yang kami abaikan dan malah lebih sering kami gerutui, kami protes… sepertinya bagimu adalah bumbu yang menyedapkan kisah, mewarnai perjalanan. Dan kamu benar. Satu persatu cerita yang manis, seru, menggelikan terputar ulang bagaikan tengah menekan tombol ‘Rewind’. Di sini, ketika sudah jauh berlalu, semuanya jadi indah. Bahkan kami menihilkan hal-hal yang tidak mengenakan hati, padahal ketika menjalaninya dulu serasa runtuh dunia.

Sepersekian detik yang berlalu sekalipun, adalah jarak terjauh, yang mustahil ditempuh kembali. Tak ada masa lagi untuk menyesali yang terlewat karena toh tak mungkin diperbaiki. Kami belajar dengan keras untuk mencapai kesadaran itu. Tak ada jalan lain kecuali menjalani waktu dengan kesadaran penuh, cherish-every-moment-of-truth.

Kau tahu sekali bahwa kami, meskipun fasih berteori tentang perubahan, kami terlalu mencintai kemapanan. Kami tak pernah benar-benar bisa ridho dengan jarak dan perpisahan ini, kalau saja tak kami dapati pesanmu di lembar terakhir buku petualangan kita. Kau bilang “terima kasih atas segala kenang-kenangan selama ini, baik itu manis maupun pahit. Sekarang, waktunya menempuh petualangan baru, sambut dan bersuka citalah menjalaninya.”

Iya, kami harus maju lagi. Tegakkan kepala, menyimpan kenangan baik, dan melangkahkan kaki.

Selamat datang era baru.

@30haribercerita

#30HBC1801 #30haribercerita #30HBC18slr

18.50

kamu pasti bertanya-tanya, seperti apa hidupku di jam-jam seperti ini;
menggelandang di kota yang keji;
tanpa seseorang yang menyibukkanku;
sampai-sampai aku sempat membaca buku;
menulis prosa;
menyanyi miris;
dan menjawab pertanyaan-pertanyaanmu yang ngga penting…

Apa? Kau membaca sepi?

Perempuan dengan Belati

Dulu, waktu ia masih gadis kecil yang baru mekar
Pada suatu siang sepulang sekolah
Di hari yang terang tanpa prasangka
sebilah tapak tangan telah menjamahnya;
Seseorang yang menjulurkan tubuh dari jendela kendaraan;
Wajah yang tak sempat terlihat

Ia terkejut dan berdebar.
Terpaku di pinggir jalan, tanpa arah, tapi juga tanpa tangisan.
Sesegera mungkin ia pulang dan menemui ibunya.
Ibu yang baru pertama kali punya anak gadis dilecehkan.
Masih tanpa tangisan. Dan ibu yang tetap bersuara tenang.
Ia lupakan kejadian itu dalam tidur malamnya.
Tetapi keesokan pagi, Ibunya menyelipkan sebilah pisau lipat.
Kecil, dengan tali benang berwarna ungu.
“Hati-hati. Tegarlah, Nak”, demikian pesan Ibunya.
Sejak itu ia tahu, kapanpun bahaya muncul, ia boleh membela diri sehabis-habisnya.
Ia kembali melewati jalan itu. Tetapi yang dinantikan tak pernah muncul lagi. Meskipun demikian, kini, kemana pun ia pergi, pisau lipat kecil bertali benang ungu selalu bersamanya.

Di masa yang lain,
Ketika ia sudah jauh dewasa dan boleh memutuskan tindakan sendiri;
Ia pergi ke hutan-hutan dan gunung.
Ayah dan ibunya tidak bisa lagi melarang.
Semalam sebelum ia berangkat, Sang Ayah membekalinya sebuah belati. Besar dan berkilat; Terbuat dari baja terbaik dan diasah dengan sangat seksama.
“Bisa untuk menebas ruyug sesemakan dan kaugunakan untuk di dapur”, pesan Ayahnya.

Dengan siapa ia pergi hari itu sebenarnya ia tak permasalahkan. Mereka adalah teman-teman yang bisa dipercaya.
Tetapi pada suatu malam di perkemahan, ia keluarkan juga benda itu. Teman-temannya tercekat; seolah tersadar bahwa mereka tak bisa main-main dengannya dalam perkataan maupun perbuatan. Sebetulnya ia tidak pernah bermaksud mengancam, maka belati itu disimpannya kembali di tas yang menjadi bantal kepalanya; Tak lagi ia gunakan untuk menebas semak maupun untuk memasak. Rekan-rekan prianya telah melakukan itu semua untuknya tanpa ia perlu bersusah-payah.

Sejak itu, lama sesudahnya… tak banyak gangguan yang ia alami dalam kehidupannya sehari-hari. Pisau lipat dan belati rasanya semakin berat ia sandang dalam kantung atau tasnya. Tanpa sepengetahuan siapa pun, ia simpan benda-benda tajam itu di lemarinya. Rapi dan tersembunyi. Ia kemudian jatuh cinta dan belajar berkata-kata; Memahami kedalaman dan keampuhannya. Kini ia mengetahui bahwa lidah yang tajam bisa tersimpan dan tersembunyi seperti pisau lipat, dan kata-kata bisa melukai serta merusak separah belati baja. Maka ia kemudian memutuskan mengasah lidah, otak, dan pekertinya setekun mengasah belati. Perlu waktu yang lama, sama seperti sebilah baja, untuk mencapai ketajaman dan keampuhan tertentu.

Ia kini bepergian dengan belati di lidahnya. Juga sepasang mata yang menyimpan api. Kesemuanya sama merusak seperti pisau lipat pemberian Ibu, maupun belati yang dititipkan ayahnya. Hati dan pekerti adalah pengendali yang juga perlu dilatih, agar lidah belatinya tidak sembarang melukai orang.
Sebenarnya lidah belati masih memiliki resiko selain keberhasilan mengoyak mental di kedalaman. Yaitu lawannya bisa jadi akan sekadar terluka dan memilih tindakan untuk membalas dengan lebih parah. Untuk kemungkinan kedua ini, ia bersiap untuk berkelahi dengan keringat dan darah. Tangan kosong.

Belati adalah pilihan ketika ia harus menghadapi babi.

@30hari bercerita

#30haribercerita #30hbc1803 #30hbc18slr

part 08 – what we do

“… seperti katamu, ini perjalanan menyusur tepi jurang. berbahaya. tapi pemandangannya indah… kita akan sering terkesima dibuatnya”, katamu. Itu membuatku tersenyum. Manik mata berkilat menyimpan rencana.

” do you know, aku suka kita bicara-bicara seperti ini… tentang banyak hal yang ngga bisa aku obrolkan dengan orang lain”, kataku sambil melemaskan tungkai, melonjor ke bawah meja.

“really? kamu ngga ngobrol begini dengan kekasih kamu di rumah?”, kau malah terkejut

“oh no. bukan begitu. Ya, tentu saja aku juga bicara-bicara begini dengan Sammy. Tapi dengan kamu berbeda…”

“eh…”, buru-buru tanganmu mengacung, membatalkan raupan kepada secangkir kopi yang telah habis seperempat. Perbincangan masih akan panjang.

“o ya yaaa,… aku ga boleh bilang begitu, seperti katamu kan?”, ralatku segera. “Kita semua sama, ngga ada yang lebih istimewa dari yang lain. Kita ini saling mengisi, melengkapi. Yang kurang kaututup, yang lebih kubagikan. Demikian sebaliknya, kau terhadapku.”

“yes, that’s my girl… Kita memilih, memilah langkah dan arah. Jalanilah. Enjoy the trip”, senyummu merebak dan cangkirmu sampai ke bibir.

Kita sama-sama tidak tahu, akan berakhir ke mana perjalanan ini. Kita sama-sama memilih menjalaninya perlahan, tidak buru-buru.

how can I face you…?

how can I face you this morning … or all the coming days?

probably i’ll be afraid
… of not seeing you in the same way
… of losing you

perhaps i’ll be shy
thus my cheeks go pinkish
and my words lost their tracks

tell me how can I ?
for we are not in the same point anymore…
; we are moving somewhere we’d never know
and I really wish you’d still hold my hand firmly

tell me
how can I face you when this heart beats so hard

perhentian

“bisa kita berhenti sebentar…?”, kali ini kuberanikan meraup tangan dengan buku-buku yang tegas dan nyata itu. jemari yang pernah begitu kukuh mengenggamku. bukan dengan raup yang ragu. karena kali ini aku sungguh-sungguh, ingin dia mengetahui seluruhku.

kutatap matanya yang mengelam seketika seperti tersengat oleh sentuhanku… “dengarkan aku, Pasha… jangan potong bicaraku. mungkin aku tak akan bicara begini lagi. dan aku tak peduli apa pun yang kaupikirkan. kamu kan ga mau jujur sama perasaanmu dan bersembunyi di balik ketidakbisaanmu berkata-kata… jadi, diamlah sebentar…” . aku ngga bermaksud kasar, aku ingin dia tahu seberapa besar perasaanku.

“aku tahu ini ngga benar. apalagi yang akan kulakukan ini… di satu sisi membuatku bagai santa, tapi aku menipu diriku sendiri. tapi Pasha, apapun yang kaurasakan terhadapku… pulanglah kepadanya, kepada kekasihmu… datangi dia. perlakukan ia dengan lembut dan tulus…. untuk aku. karena aku ngga ingin ini semua menghancurkan kita. aku terlalu sayang sama kamu.”

“dan hentikan leluconmu tentang musim angin selatan. kamu tau benar ini bukan soal gelombang datang dan pergi… atau hal-hal musiman yang akan berlalu. ini bukan sesuatu yang main-main bagiku. aku telah merasakannya jauh lebih lama dari sekadar musim lalu; bukan hanya tiga atau empat bulan ini, sayang… tapi… t a p i … kalaupun ini benar soal musim-musiman… sungguh, aku ingin bertemu denganmu di musim mendatang. bahkan sebagian diriku ingin larut dan hanyut saja kaubawa. empaskan aku sesukamu.

Aku bagimu adalah kebenaran dalam kata-kata
sedangkan
Kau adalah seluruh emosi yang kurasakan

dua cangkir

caramel macchiato dan Asian dolce latte. ice. siang itu.

dalam terik matahari yang membakar. meninggalkan hangus dari tawa yang berderai dan debam jantung yang menghentikan tarikan nafas.

seharusnya membakar habis juga segala pertanyaan tentang eksistensi. tentang apakah pernah ada…

jarak-jarak yang ditempuh tanpa hirau. bukan hanya ke warung sebelah rumah. ini tentang perhentian dari kota ke kota. yang tak kan mungkin dipilih oleh kepala-kepala yang berpikir terlalu panjang tentang etika.

ini tentang langkah-langkah yang dituntun intuisi… dan getar halus sanubari yang saling bersambutan. berjalinan. langkah-langkah yang berlari putus asa demi menyimpan hangat yang berkerlip lemah di tengah dunia yang kalut.

tak ada kepemilikan atas satu terhadap lainnya. tak ada kita sepanjang masa. only a moment of truth.  a deep warm little time.

percayalah akan itu…