Meredam Remuk

ini adalah saat ketika aku belajar untuk tidak menjadi serakah. dan betapa pelajaran itu terasa sulit,… memerihkan hati. bahwa segala yang kita inginkan tak selalu bisa kita miliki.

Entah apakah aku yang tengah berhalusinasi… atau memang udara di sekitar kita selalu berkabut kelabu dan segalanya boleh abu-abu…? Aku mendengarmu membisikkan itu… dengan segala cara yang bukan kata-kata. Mungkin kita tak ‘kan bisa bersikap adil lagi kepada perasaan karena kita tidak bisa lagi mengaksarakannya.Kau memilih sayap-sayap halus seolah menyapu di wajahku. Menunggu jawab dari tatapku. Tapi tak mudah juga untuk merangkum jawab sementara hatiku meluap-luap.

Aku… sangat ingin bilang padamu… aku merasakan hal yang sama. Menginginkan mimpi-mimpi yang sama. Lalu kita harus merasa cukup dengan siksaan-siksaan ini. Kita harus berbahagia dengan rasa sakit karena dengan itulah kita, aku dan kamu, ada.

Karena kata-kata adalah hal yang terlarang di antara kita. Sementara kita ingin bilang bahwa cinta yang dalam itu sangat menyakitkan.

*Terima kasih kau telah pernah mengungkapkannya…

(in the middle of airing How Would You Feel ?  – Ed Sheeran)

bagian yang salah dalam perihal kita

diriku hari ini terbuat dari

hati yang menyanyi-nyanyi,

aroma tubuh yang wangi

dan senyum manismu ketika kita berjumpa

 

dalam hal ini aku adalah seekor burung yang tak terjinakkan oleh sangkar atau jewawut dalam cawan. selalu ada dalam diriku yang menginginkan langit lepas. ranting-ranting persinggahan, batu-batu karang, tebing pantai, dan gelegak ombak yang menyambar ke sayap-sayapku.

Demikian juga dirimu, kurasa. Kita menyimpan kerinduan yang sama. Pada deru angin yang penuh ancaman. Pada bahaya mengenggam telur kaca yang rapuh, dan kita membawanya terbang cepat ke tempat-tempat tinggi dalam cakar-cakar yang gemetar.

Bagian paling salah dalam hal ini adalah ketika berpikir. Sesuatu yang menurut banyak orang adalah akal sehat. Padahal, mana sehat antara penuh taktik atau mengikuti kata hati? Mana yang lebih hidup daripada kekinian? Ketika kesadaran kita penuh untuk merasakan, meresapkan, mengalami dan mengada. Bukan dalam kenangan masa lalu. Atau harapan indah di masa depan. Bukan pula pada citra-citra sempurna dan keharusan nilai? Kita adalah saat ini. Tidakkah itu sudah cukup dan hakiki?

Hari yang penuh jatuh cinta adalah ketika :

– mendapatimu mencari-cari keberadaanku

– aku menyisipkan sebilah senyum yang membawa seluruh ruap hangat dari dalam hati

– “hai…” diungkapkan dalam nada rendah dan dalam seolah ia rapuh jika diseru

– kau tak henti tersenyum dan kata-katamu lunak

.

dan kau adalah me-time dari diriku yang selama ini kukenal

roman kembang perjalanan.

It takes two to Tango. Tak pernah sendiri, selalu ada yang menyambut getar, sehalus apapun itu. Dan kerjap yang tercuri di tengah canda khalayak.

Ada kita di jalan itu. Dalam cemerlang purnama tahun itu. Embus angin puncak yang menggigilkan hati. Dan saputan kabut yang datang dan pergi. Rentang benang takdir yang bersembunyi di balik lintang kosmis, saling bertaut dalam hangat yang gagu. Diam sesaat yang dalam dan lekat. Milik kita yang tak terenggut.

Batu dan peluh ini tak ada arti. Betapa kita telah begitu letih menanti. Untuk bertemu dan memadu. Kelu dalam resah, hingga puja dan puji hanya berujung di air mata. Tak sanggup lebih lagi. Tak perlu lebih lagi. Inilah semuaku, yang kuperlihatkan padamu.

Jatuh hatiku pada caramu memperjuangkanku; memperjuangkan hal-hal yang kadang terlupa kalau aku berhak atasnya; Tapi asmara itu musiman, sayang. Hanya itu yang kita punya, untuk bertahan sebelum masa meluluhlantakkan kita. Aku lebih ingin percaya kau tengah sungguh-sungguh mengatakannya dengan caramu. Cukuplah itu. Lewat bercangkir-cangkir kopi, makan siang sederhana,… dan gesekan sekilas sisi sepatumu pada mata kakiku. 

Setelah itu… seperti sehelai mayang terhanyut derai hujan, aku terbawa. Kau menyiksaku justru dengan mengatakan kalau kau percaya bahwa aku orang yang kuat. Bahwa kepantasan ini menuntut kekerashatian yang sama gigih. Tepian yang keras dan tajam, terluka aku demi kita pun tak apa.

Bagaimana menyimpan milik kita yang berharga itu … layaknya mutiara benak yang kurebahkan di bantalan hati. Berbinar karena denyar dan debar. Hiduplah kau dalam kenanganku. Satu dari kenang-kenangan terbaik

Raflesia

Di antara hukum buah-buah yang jatuh di sekitar pokok utama… selalu ada saja yang melepaskan diri. Menjauh. Bertumbuh dengan sejadinya. Dilupakan oleh induk tetapi sebenarnya masih tetap mengurat darah di sana. Begitulah kehidupan rumpun kami. Hampir terlupakan. Jauh. Bahkan tak dipandang. Bahkan pokok induk itu membenci kami seolah kami bukan apa-apa dari mereka. Bagaikan tak ada mereka di darah kami.

Dan sepanjang masa kehidupannya dipenuhi kebusukan. Tak ada bangkai tetapi baunya menyeruak. Merusak. Kami hanya sekadar bertahan untuk makan. Meskipun kami hidup, bagi mereka kami tetap disebut bangkai.

…..

(bagian 73)

“Apa andilmu dalam hidup kami? Apa yang papa mamamu lakukan atas kehadiran kami? Asal kamu tahu, Darmo tidak pernah diurus dan disayang ayah ibunya, nenek dan kakekmu itu. Apakah papamu pernah bisa cerita apa saja yang dialami Uwak Darmo ketika papamu cuma bisa ngompol dan nangis? Uwakmu itu dijadikan bujang di rumah besar. Kata ayah ibunya, supaya Uwakmu lekas mandiri dan dewasa. Mereka keras tetapi sayang. Apa kamu tahu, semua anak tetap memerlukan belaian kasih sayang ibu? Itu bukan retorika… tetapi Uwakmu tak sempat lagi mendapatkannya karena kelahiran papamu, Oom-oom… dan tante-tantemu…

Jadi… tahu apa kamu tetang kehidupan kami?”

Sas kemudian memilih berhenti … membiarkan kata-katanya diserap oleh anak gadis di depannya.

 

Apa yang dibawa masa lalu ketika ia kembali muncul di hadapanmu? Kamu yang selama ini yakin masa-lalu-biarlah-berlalu. Tetapi masa lalu bukanlah milikmu sendiri. Ada kenangan lain yang tersimpan dalam diri yang lain. Dan ketika ia hadir kembali kau terkesiap, menyadari dirimu tidak lagi sendirian.

Itulah yang kurasakan. Pagi itu. Ketika sosoknya yang tegap menjulang, sedikit lebih gemuk dari di masa lalu, hadir dalam kemeriahan bincang pagi di antara lorong dan cubicle, tak jauh dari pojok kerjaku. Aku terkesiap. Tapi terlalu terlambat untuk menahan langkah. Masa lalu yang bermata elang keburu menangkap gerakku, bagaikan tikus tanah yang terpojok, menabrak dinding beton, tak sanggup kabur menggali dan bersembunyi. Kilasan sesal itu, seandainya ia sempat melihat, segera berlalu dari piringan selaput pelangi. Tergantikan oleh senyum dan sapa yang dipaksa-paksakan selembut mungkin, tanpa lonjakan akibat lonjakan jantung yang tetiba “Hei, ada orang jauh… Kapan datang?”. Dan aku semakin terkesiap ketika ia menyebut namaku. Ia masih ingat! Adakah ia juga ingat segala kebodohan di masa lalu kami? Aku sangat tahu untuk perlu khawatir karena hanya itu satu-satunya kenangan yang sama-sama kami miliki. I was doomed.

Young and restless. Mungkin hanya itu obat penawar jika di antara kami suatu hari terpojok kembali berduaan dan tanpa sengaja saling mengungkit kisah beracun masa lalu. Sungguh, aku tak ingin itu terjadi. Berhari-hari kemudian aku selalu menghindari kemungkinan untuk bertemu dengannya berduaan saja. Bahkan aku begitu sering menghindar dari tatap mata. Setiap ada kesempatan saling mengimbuh percakapan (agar tak terasa terlalu ganjil), selalu terasa kering, rikuh harus menempatkan diri sebagai apa. Basa-basikah? Atau perbincangan di antara teman lama? Adakah ia mengingat masa lalu kami dengan dengan begitu rapat dan lekat? Hanya itu. Sehingga begitu asing untuk diingat ulang karena kami sudah menjadi dua orang yang berbeda. Ia dengan kehidupannya. Sedangkan aku dari pengembaraan yang tak mungkin ia telusuri.

Lalu aku mulai bertanya-tanya kapan waktu akan memulai penguburan terhadap kenangan kami. Kapan waktu akan membersihkan kabut masa lalu yang mengambang di lorong-lorong kantor, di sela-sela cubicle; Kabut kenang-kenangan yang melingkupi hanya kami berdua, sampai mati dan sirna, tak kan muncul lagi. Bersih sehingga mencekiknya seperti benalu terhadap pohon inang (meskipun itu berarti kematian sebagian ingatanku). Sebab sampai sejauh ini waktu dan jarak seakan tidak membuat kami asing, hanya seperti bersembunyi sesaat. Sebab sejauh ini aku selalu merasa terancam, takut kenangan itu akan bangkit, membesar, memperlihatkan taringnya, lalu cakar-cakarnya mulai menggurati kedok-kedok yang kami kenakan, sehingga kami akan saling melihat kembali diri kami sebagai ketelanjangan. Ketelanjangan yang sama ketika masa lalu itu kami ukir bersama, hanya berdua, dengan kebodohan.

Aku tidak tahu, apakah ia tengah bergulat dengan kecamuk yang sama? Apakah ia juga merasakan jeri yang sama, seperti kepada monster yang bersembunyi di ketemaraman. Terasa namun tak terlihat. Dengan ketakutan yang sama. Takut salah satu di antara kami kurang berhati-hati, tergelincir menyenggol dan membangunkannya. Monster itu, yang bernama masa lalu.

ingatan tentang danau

angin bertiup dan membawaku kembali ke danau itu. pagi itu. yang langitnya mendung tipis. dan payung warna-warni menaungi kami.

mengusir dingin dengan klak-klik di ujung telunjuk. pose demi pose. sehelai selendang pelangi menusuk embusan nafas yang mengabut. dan riuh rendah sapa bersama seleret cahaya fajar.

dingin itu masih mengendap di dasar ingatan. dan hatiku seperti sampan yang tengah berlayar perlahan membelah muram.

 

ada yang menghilang

dari udara, dari barisan nama.

 

mungkinkah juga ingin menghilang dari kenangan?

 

ini bukan rindu ingin bersua

hanya sekadar ingin mendengar kabar

yang menjawab pembenaran luka, yang lama disimpan kenangan

renjana dru

sejak itulah sejarah bermula
dimulai dengan luka

tak terperi bagaimana esok tergambarkan
tetapi memulai kini memang tak semudah kata-kata

tak ada aroma kopi pagi hari
tak ada bangun dini dan menyiapkan diri
seketika ia pergi
sesaat itu juga cahaya seperti mangkir dari jendela

apa gunanya pertanyaan ‘kenapa’ ?
selain mencari cara membebaskan diri dari beban
sebab tak lain kebangkitan adalah dari dalam hati
yang masih juga enggan menjejakkan langkah